Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Terungkap, Binance Dibobol Lewat Modus Wawancara Kerja Palsu

3 min read
Terungkap, Binance Dibobol Lewat Modus Wawancara Kerja Palsu
logo Binance (unsplash.com/Kanchanara)
  • Peretas diduga menyusup ke Binance lewat rekrutmen palsu, mengirim tugas pemrograman bermalware kepada software engineer hingga memperoleh akses ke sistem internal.
  • Setelah infiltrasi awal sejak Juni 2026, pelaku memanfaatkan perangkat korban dan AI internal untuk mendapatkan token, memasang container, lalu menguras hot wallet pada 29 Oktober.
  • Aset senilai sekitar US$6,34 miliar dicuri; Binance menyatakan menanggung kerugian, telah memulihkan 98 persen aset terdampak, sementara FBI mengaitkan serangan dengan TraderTraitor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Serangan siber yang menguras aset kripto Binance senilai sekitar US$6,34 miliar atau setara Rp115 triliun diduga bermula dari proses rekrutmen fiktif. Peretas menyusup ke sistem bursa kripto tersebut dengan menyamar sebagai perekrut perusahaan dan mengirimkan tugas pemrograman yang ternyata mengandung perangkat lunak berbahaya (malware).

Dalam laporan awal insiden, Binance mengungkap bahwa serangan yang terjadi pada 29 Oktober 2026 itu memanfaatkan seorang software engineer sebagai sasaran. Korban dihubungi pada September 2026 oleh seseorang yang mengaku sebagai direktur proyek melalui platform pencarian kerja yang sah. Pelaku kemudian menawarkan kesempatan wawancara di perusahaan yang ternyata tidak pernah ada.

Untuk membangun kepercayaan, pelaku menggelar wawancara pertama melalui panggilan video dengan seseorang yang berpura-pura menjadi staf sumber daya manusia (HR). Orang tersebut juga membagikan akun media sosial berisi foto-foto pribadinya agar identitas palsu tersebut terlihat meyakinkan.

Pada tahap berikutnya, korban berkomunikasi melalui aplikasi pesan dengan seseorang yang mengaku sebagai CEO perusahaan. Pelaku meminta korban mengunduh tugas pemrograman sebagai bagian dari proses seleksi. Namun, berkas tersebut telah disusupi malware yang aktif ketika korban menjalankan tugas menggunakan komputer kerjanya.

Malware itu menyamar sebagai komponen pyenv, perangkat untuk mengelola lingkungan pemrograman Python. Dengan cara tersebut, peretas dapat menjalankan perintah dan berkomunikasi dengan server mereka tanpa mudah terdeteksi.

Serangan terhadap Binance ternyata tidak bermula dari wawancara palsu tersebut. Sebelumnya, pada Juni 2026, peretas diduga telah menyusup melalui engineer lain yang mengunduh berkas instalasi Homebrew yang telah dimodifikasi. Homebrew merupakan perangkat lunak untuk memasang aplikasi pada komputer Mac.

Tim keamanan Binance sempat mendeteksi aktivitas mencurigakan tersebut dan mengganti perangkat serta informasi login engineer yang terdampak. Namun, informasi mengenai posisi engineer itu dan rekan-rekannya di tim dompet kripto Binance diduga telah lebih dahulu diperoleh pelaku.

Pada 20 Oktober 2026, peretas memanfaatkan komputer korban wawancara palsu serta perangkat kecerdasan buatan (AI) internal Binance untuk mengakses komputer dua engineer di tim dompet kripto. Dari salah satu perangkat tersebut, mereka menemukan token yang memberikan izin untuk memasang container di sistem Binance.

Container merupakan paket perangkat lunak yang dapat dijalankan di server dengan lingkungan yang telah dikemas. Akses tersebut kemudian dimanfaatkan pelaku untuk menjalankan tahapan serangan berikutnya.

Sembilan hari kemudian, tepatnya 29 Oktober, peretas menggunakan token tersebut untuk memasang container dan menjalankan skrip pencurian aset. Dana kemudian dikuras dari sejumlah dompet panas (hot wallet), yakni dompet kripto yang terhubung dengan internet.

Aset yang dicuri mencakup 233,46 juta XRP, sekitar 970.500 SOL, 44,2 juta OP, 18.270 BTC, dan 2.961,9 ETH.

"Ini bukan satu pembobolan yang terisolasi atau insiden phishing sederhana," tulis Binance.

Perusahaan juga menyatakan akan menanggung kerugian akibat pencurian tersebut sehingga pengguna tidak perlu menanggung dampak finansialnya.

"Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri, bukan pengguna kami," tulis Binance.

Hingga 31 Oktober 2026, Binance mengklaim telah memulihkan 98 persen aset yang terdampak. Perusahaan juga menyebut sekitar US$2,85 miliar atau setara Rp51,8 triliun aset curian telah dibekukan atau berhasil dicegat.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas TraderTraitor yang diduga memiliki hubungan dengan Lazarus Group, kelompok yang dikenal terlibat dalam sejumlah pencurian aset kripto berskala besar.

FBI menyebut pelaku mulai menukarkan aset hasil pencurian ke Ethereum. Lembaga tersebut juga meminta bursa kripto untuk memblokir transaksi yang berkaitan dengan dana hasil peretasan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana proses rekrutmen dapat dimanfaatkan sebagai jalur masuk untuk menyerang infrastruktur perusahaan. Modusnya tidak hanya mengandalkan pencurian kredensial, tetapi juga rekayasa sosial untuk memperoleh kepercayaan karyawan dan membuka akses ke sistem internal.

    Related Articles

    See More