Jakarta, FORTUNE - Harga Bitcoin masih bertahan di kisaran US$ 84.519 pada Jumat (25/9), berdasarkan data CoinmarketCap, setelah sempat menembus level US$86.000 pada awal pekan. Pergerakan tersebut berlangsung setelah pasar mencerna keputusan suku bunga The Federal Reserve dan kegagalan proses legislasi Clarity Act di Senat Amerika Serikat (AS).
Dalam perdagangan beberapa hari sebelumnya, Bitcoin sempat mencapai sekitar US$86.600 pada 21 September sebelum terkoreksi. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih melakukan penyesuaian posisi setelah menghadapi dua agenda penting pada pekan sebelumnya, yakni keputusan kebijakan moneter The Fed dan perkembangan regulasi aset digital di AS.
Salah satu Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime, mencermati dinamika tersebut sebagai bagian dari perubahan posisi pelaku pasar di tengah meningkatnya volatilitas. Pada 16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4 persen.
Sehari sebelumnya, Senat AS juga gagal melanjutkan proses legislasi Clarity Act. Pemungutan suara menghasilkan 50 suara berbanding 49, sehingga belum memenuhi ambang 60 suara yang diperlukan untuk melanjutkan proses legislasi. Reuters melaporkan Bitcoin dan sejumlah aset kripto lainnya sempat tertekan setelah hasil pemungutan suara tersebut.
Namun, tekanan tersebut kemudian berbalik. Bitcoin kembali melewati US$80.000 dan pada 21 September sempat menembus US$85.000 untuk pertama kalinya sejak Januari. Kenaikan itu berlangsung bersamaan dengan gelombang likuidasi posisi short di pasar derivatif. The Block mencatat lebih dari US$750 juta posisi kripto dilikuidasi dalam 24 jam, dengan sekitar US$648,3 juta berasal dari posisi short.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana pelaku pasar dapat merespons perkembangan makroekonomi dan regulasi dalam waktu relatif singkat.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar dapat kembali menyesuaikan posisi dalam waktu singkat. Karena itu, penting untuk melihat perubahan harga bersama dengan volume perdagangan, posisi Futures, serta perkembangan sentimen pasar secara keseluruhan,” ujar Ryan dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (25/9).
Menurut Ryan, perubahan posisi di pasar derivatif sebenarnya telah terlihat sebelum kedua agenda tersebut berlangsung. Data sentimen yang dikutip CoinNess menunjukkan open interest Bitcoin Futures turun sekitar 13,5 persen, dari 321.497 BTC pada 3 September menjadi 278.151 BTC pada 11 September.
Penurunan tersebut mengindikasikan sebagian pelaku pasar mengurangi posisi atau penggunaan leverage menjelang agenda yang berpotensi memicu volatilitas. Sementara itu, data Talos untuk periode 10–16 September menunjukkan volume perdagangan Futures meningkat 6,3 persen secara mingguan menjadi US$1,07 triliun.
Pada periode yang sama, open interest Bitcoin dalam denominasi dolar turun 1,6 persen menjadi US$44,4 miliar. Nilai likuidasi Bitcoin juga meningkat 15,9 persen secara mingguan menjadi US$398,3 juta, dengan aktivitas likuidasi terkonsentrasi di sekitar waktu kegagalan pemungutan suara Clarity Act.
Setelah Bitcoin kembali bergerak naik, aktivitas di pasar Futures ikut meningkat. Mengutip The Block data menunjukkan lebih dari US$648 juta posisi short kripto dilikuidasi ketika Bitcoin menembus US$85.000.
Ryan mengatakan perubahan aktivitas di pasar Futures perlu dibaca bersama kondisi pasar secara keseluruhan. Kenaikan volume maupun likuidasi belum dapat digunakan secara otomatis untuk menyimpulkan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.
“Kenaikan aktivitas Futures dan likuidasi posisi short dapat memperkuat pergerakan harga dalam jangka pendek, tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa tren tertentu akan berlanjut. Trader tetap perlu memahami bahwa posisi di pasar Futures dapat berubah cepat mengikuti volatilitas dan sentimen pasar,” katanya, menambahkan.
Di tengah perubahan tersebut, Bittime mencatat BTCUSDT-PERP menjadi pasangan dengan aktivitas perdagangan tertinggi sepanjang pekan. Posisi berikutnya ditempati ARBUSDT-PERP, UNIUSDT-PERP, XRPUSDT-PERP, dan ETHUSDT-PERP.
Menurut Ryan, komposisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan Futures di platform tidak hanya berpusat pada Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Sejumlah aset lain juga mencatat aktivitas transaksi yang signifikan.
“Futures memberikan fleksibilitas melalui pilihan posisi long dan short, tetapi penggunaan leverage juga dapat memperbesar risiko ketika pergerakan pasar tidak sesuai dengan posisi yang diambil. Karena itu, trader perlu memahami margin, leverage, likuidasi, dan manajemen risiko sebelum menggunakan produk Futures,” ujarnya. Dengan demikian, pasar masih berada dalam fase penyesuaian setelah reli yang dipicu antara lain oleh perubahan posisi di pasar derivatif.
