Jakarta, FORTUNE - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menargetkan perolehan kontrak baru senilai Rp21,4 triliun hingga akhir 2026. Target tersebut dibidik di tengah kondisi industri konstruksi yang masih menghadapi perlambatan dan penurunan perolehan kontrak baru perseroan dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Operasi II WIKA, Sonny Setyadhy, mengatakan target kontrak baru tersebut telah ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Untuk mengejarnya, perseroan membidik sejumlah proyek strategis pemerintah sekaligus memperluas pasar ke sektor swasta dan luar negeri.
“Di target kita, RKAP itu di Rp21,4 triliun,” kata Sonny dalam paparan publik WIKA secara virtual, Kamis (1/10).
Sejumlah proyek yang menjadi sasaran WIKA adalah pembangunan Sekolah Rakyat, sekolah terintegrasi, serta proyek optimasi lahan (OPLAH). Selain itu, perseroan membidik proyek Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) dan pasar hijau atau green market di Indonesia.
WIKA juga mulai memperluas pasar ke luar negeri. Sonny menyatakan perseroan tengah membidik proyek di Timor Leste dan telah melakukan go public supply beton di Manila, Filipina.
Target tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi WIKA. Pasalnya, kontrak baru perseroan terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, kontrak baru WIKA masih mencapai Rp50,56 triliun, tetapi turun menjadi Rp41,18 triliun pada 2019.
Perolehan kontrak mencapai Rp23,37 triliun pada 2020, sebelum sedikit meningkat menjadi Rp26,81 triliun pada 2021 dan Rp33,37 triliun pada 2022. Setelah itu, kontrak kembali turun menjadi Rp29,25 triliun pada 2023, Rp20,66 triliun pada 2024, dan Rp17,46 triliun pada 2025.
Dengan demikian, kontrak baru WIKA pada 2025 telah turun sekitar 65,47 persen dibandingkan dengan 2018. Penurunan tersebut turut memberikan tekanan terhadap pendapatan dan penerimaan kas perseroan.
Hingga Agustus 2026, WIKA baru membukukan kontrak baru bernilai Rp8,69 triliun. Nilai tersebut terdiri atas kontrak dari pemerintah sebesar Rp3,83 triliun, BUMN Rp3,48 triliun, swasta Rp1,39 triliun, serta proyek HSRCC sekitar Rp4 juta.
Artinya, untuk mencapai target RKAP Rp21,4 triliun, WIKA masih membutuhkan tambahan kontrak sekitar Rp12,71 triliun dalam empat bulan terakhir 2026.
Direktur Operasi I WIKA, Hananto Aji, mengatakan perseroan menyadari kondisi pasar konstruksi saat ini masih menantang. Karena itu, strategi WIKA tidak hanya mengandalkan proyek pemerintah, tetapi juga berupaya memperbesar kontribusi dari sektor swasta dan proyek yang berkaitan dengan program hilirisasi.
Menurut dia, pengalaman WIKA mengerjakan proyek smelter menjadi salah satu modal memperbesar pasar EPCC. Perseroan berharap rekam jejak tersebut dapat menjadi pembeda ketika bersaing mendapatkan proyek dari sektor swasta maupun BUMN lainnya.
Di sisi lain, Hananto mengakui strategi diversifikasi WIKA selama ini belum memberikan kontribusi yang cukup baik bagi kinerja perseroan. Karena itu, perusahaan akan kembali memperkuat bisnis inti konstruksi sembari membenahi tata kelola, cara kerja, metode kerja, hingga struktur harga pokok produksi (HPP).
“Kami akan kembali ke core business kami, dalam hal ini sektor industri konstruksi,” katanya.
