Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
4 Kapal Pertamina Terjebak di Timur Tengah, Dua Berada di Selat Hormuz
Kapal Pertamina International Shipping. (Dok. PIS)
  • Pertamina membenarkan ada empat kapalnya yang berada di kawasan Timur Tengah.

  • Fokus utama perusahaan adalah keselamatan awak kapal dan keamanan aset.

  • Pertamina dan anak usahanya, PIS, terus berkoordinasi dengan pemerintah serta KBRI dan KJRI.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Empat kapal milik Pertamina dilaporkan berada di kawasan Timur Tengah, termasuk dua kapal yang masih berada di sekitar Selat Hormuz, di tengah meningkatnya eskalasi situasi di wilayah tersebut.
  • Who?
    Kapal-kapal tersebut dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) dan dioperasikan melalui anak usahanya, PT Pertamina International Shipping (PIS). Pernyataan disampaikan oleh VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
  • Where?
    Dua kapal berada di sekitar Selat Hormuz, sementara dua lainnya beroperasi di Khor al Zubair Irak, Ras Tanura Arab Saudi, Khor Fakkan Uni Emirat Arab, dan Oman. Kantor PIS Middle East berada di Dubai.
  • When?
    Pernyataan resmi disampaikan pada Selasa, 3 Maret. Pemantauan terhadap armada dilakukan secara intensif sejak meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
  • Why?
    Pemantauan dilakukan untuk memastikan keselamatan awak kapal serta keamanan aset perusahaan akibat meningkatnya risiko dari situasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
  • How?
    Pertamina berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan perwakilan Indonesia di luar negeri. Armada dipantau secara real-time dan awak kapal mengikuti imbauan keamanan dari Kedutaan Besar serta Konsulat Jenderal RI set
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Pertamina (Persero) mengintensifkan pemantauan terhadap empat unit kapalnya yang tengah beroperasi di zona konflik Timur Tengah. Pasalnya, terjadi peningkatan eskalasi di kawasan tersebut, dan dua di antara kapalnya dilaporkan berada tepat di sekitar Selat Hormuz.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan melakukan pengawasan secara real-time guna memastikan keamanan aset dan keselamatan awak kapal. Menurutnya, koordinasi lintas sektoral terus dilakukan untuk memitigasi risiko keamanan.

“Untuk di Selat Hormuz memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Mungkin ada empat total, tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz,” kata Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3).

Baron memastikan hingga saat ini, seluruh personel dan kapal dalam kondisi aman. Pertamina juga menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah, khususnya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, guna mengantisipasi skenario kedaruratan yang mungkin timbul.

“Kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan para awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana,” ujarnya.

Atas dukungan yang diberikan dalam menjaga aset strategis negara tersebut, Pertamina menyampaikan apresiasinya.

“Kami berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang membantu mengamankan aset kami dan para awak,” kata Baron.

Secara terpisah, PT Pertamina International Shipping (PIS) melalui anak usahanya mengonfirmasi peningkatan pengawasan terhadap unit-unitnya yang tersebar di beberapa titik panas. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, memerinci posisi empat kapal yang saat ini berada di area Timur Tengah:

  1. Gamsunoro: Proses loading di Khor al Zubair, Irak.

  2. Pertamina Pride: Berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi (selesai loading).

  3. PIS Rinjani: Berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab (UAE).

  4. PIS Paragon: Proses discharge di Oman.

Selain armada laut, PIS melaporkan bahwa kantor cabang regional di Dubai, PIS Middle East, tetap beroperasi dalam kondisi aman. Sebanyak 30 pekerja beserta keluarga mereka berada di bawah pantauan ketat perusahaan dan mengikuti protokol dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) serta Konsulat Jenderal RI (KJRI).

“Para pekerja kami juga mengikuti imbauan Kedutaan Besar Indonesia di sana untuk terus meningkatkan kewaspadaan, lapor diri, dan menghubungi hotline KBRI maupun KJRI jika terjadi situasi kedaruratan," kata Vega Pita.

Editorial Team