Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Selat Hormuz Penting bagi Minyak dan Ekonomi Dunia?

Kenapa Selat Hormuz Penting bagi Minyak dan Ekonomi Dunia?
potret Garda Revolusi Iran/Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) (iranintl.com)
Intinya Sih
  • Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap hari.

  • Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada harga energi dan tarif pengiriman.

  • Alternatif pipa yang ada tidak mampu menggantikan total volume minyak yang melewati Hormuz.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada awal 2026.

Garda Revolusi Iran mengumumkan pada Sabtu (28/2) bahwa Selat Hormuz telah ditutup untuk navigasi internasional hingga pemberitahuan lebih lanjut sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “serangan AS dan Israel”.

Gangguan di jalur tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi dan pelayaran global. Sejumlah kapal tanker dilaporkan menghindari perairan itu, sementara perusahaan pelayaran kontainer menangguhkan operasi.

Kekhawatiran atas ditutupnya Selat Hormuz menunjukkan pentingnya jalur tersebut. Berikut penjelasan kenapa Selat Hormuz penting bagi minyak dan ekonomi dunia.

Jalur utama perdagangan minyak dunia

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Letaknya di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) di sisi selatan.

Sebagian besar negara produsen minyak di kawasan Teluk—Arab Saudi, Irak, Kuwait, UEA, Qatar, dan Iran—mengandalkan jalur ini untuk ekspor.

Data yang dikumpulkan Bloomberg menunjukkan sekitar 16,7 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melewati selat ini pada 2025.

Sementara itu, U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat sekitar 20 juta barel per hari atau hampir seperlima konsumsi minyak global melintasi Hormuz. Hampir seperlima pasokan gas alam cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar, juga melewati jalur ini.

Lebar Selat Hormuz sekitar 21 mil di titik tersempit, tetapi jalur pelayaran di masing-masing arah hanya sekitar dua mil. Kondisi ini membuat lalu lintas kapal sangat terkonsentrasi dan rentan terhadap gangguan.

Jalur air sempit di muara Teluk Persia ini menangani sekitar seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut, sehingga setiap gangguan berisiko memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.

Berdampak langsung ke harga energi dan logistik

Kenapa Selat Hormuz penting bagi minyak dan ekonomi dunia? Gangguan pelayaran di Selat Hormuz berdampak cepat pada harga minyak. Harga minyak sempat menyentuh level tertinggi tujuh bulan pada Februari 2026 di tengah spekulasi peningkatan konfik.

Analis minyak mentah senior Kpler Ltd., Muyu Xu, memperkirakan pada Juni 2025 bahwa penutupan selat selama satu hari saja dapat mendorong harga minyak ke kisaran 120 hingga 150 dolar AS per barel. Sebelum serangan udara 28 Februari di Iran, minyak mentah Brent rata-rata berada di 67 dolar AS per barel sepanjang awal 2026.

Selain energi, jalur ini juga penting bagi perdagangan kontainer global. Pelabuhan seperti Jebel Ali dan Khor Fakkan berfungsi sebagai hub pengiriman utama.

Perusahaan pelayaran Maersk menangguhkan pelayaran melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut dan memperingatkan potensi keterlambatan layanan di pelabuhan Teluk Persia. Hapag-Lloyd menyatakan semua kapal yang melintas akan ditangguhkan dengan alasan keselamatan awak, sementara CMA CGM dan MSC menginstruksikan kapal mereka menuju area aman.

Kepala Analis Xeneta, Peter Sand, menyebut tarif pengiriman kontainer ke dan dari Timur Tengah berpotensi meningkat selama konflik berlangsung, mengingat tidak ada alternatif jalur laut yang setara untuk menggantikan rute tersebut.

Ketergantungan Asia dan keterbatasan alternatif

Sebagian besar minyak dan LNG yang melewati Selat Hormuz ditujukan ke pasar Asia. EIA memperkirakan 84 persen minyak mentah dan 83 persen LNG yang melintasi selat itu menuju Asia. China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi importir utama.

China merupakan pembeli terbesar minyak Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merespons laporan persetujuan parlemen Iran untuk menutup selat pada 2025.

“Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka tentang hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka,” kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, dilansir Economic Times, Senin (23/6).

Beberapa negara memiliki jalur alternatif terbatas. Arab Saudi mengoperasikan pipa Timur-Barat berkapasitas 5 juta barel per hari menuju Laut Merah. UEA memiliki pipa Habshan–Fujairah dengan kapasitas 1,5 juta barel per hari.

Namun kapasitas tersebut tidak sebanding dengan total volume harian yang melintasi Hormuz. Kuwait, Qatar, dan Bahrain tidak memiliki rute alternatif laut, sementara Iran sendiri juga bergantung pada selat ini untuk ekspor minyaknya.

Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam sistem energi global. Volume minyak dan gas yang melintasinya, konsentrasi pasar Asia sebagai pembeli utama, serta keterbatasan jalur alternatif menempatkan kawasan ini dalam perhatian pelaku pasar, pemerintah, dan pelaku industri logistik setiap kali eskalasi geopolitik terjadi.

FAQ seputar Selat Hormuz

Kenapa Selat Hormuz penting bagi dunia?

Karena sekitar 20 juta barel minyak per hari dan hampir seperlima pasokan LNG dunia melewati jalur ini.

Siapa yang paling bergantung pada Selat Hormuz?

Negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi importir utama minyak dan LNG yang melintasi selat tersebut.

Apa dampak jika Selat Hormuz ditutup?

Penutupan dapat memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok energi serta pengiriman internasional.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in News

See More