Sektor TIK Naik 8,35 Persen, Purbaya Dorong Indonesia Jadi Mitra AI Global

Pertumbuhan terjadi berkat infrastruktur digital seperti jaringan serat optik dan kapasitas satelit nasional yang meningkat.
Pemerintah memperkuat ekosistem AI nasional sambil menjaga kewaspadaan terhadap risiko sistemik.
Purbaya optimistis perekonomian RI tumbuh hingga 6 persen pada 2026.
Jakarta, FORTUNE – Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bukan lagi sekadar eksperimen di laboratorium. Di hadapan forum IMFC Early Warning Exercise di Washington, DC, Amerika Serikat, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan teknologi ini telah merasuk menjadi bagian integral dalam denyut nadi perekonomian nasional. Indonesia kini tidak lagi menjadi penonton di pinggir lapangan.
Sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Tanah Air mencatat sejarah dengan laju pertumbuhan tertinggi sebesar 8,35 persen. Angka ini bukan berdiri di atas pasir; ada fondasi infrastruktur berupa 12.000 kilometer jaringan serat optik dan kekuatan satelit nasional berkapasitas 150 Gbps yang menyokongnya.
“Indonesia secara aktif terus memperkuat ekosistem AI nasional untuk memastikan peningkatan produktivitas dapat dioptimalkan di dalam negeri, sambil tetap terbuka terhadap kolaborasi global,” ujar Purbaya dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (21/4).
Ia memproyeksikan Indonesia sebagai pemain ganda: pengguna sekaligus pengembang solusi berbasis AI.
Namun, di balik gemerlap teknologi, dia tetap memasang kuda-kuda. Pemerintah mewaspadai sederet risiko sistemik yang mengekor di belakang kemajuan ini. Mulai dari ancaman gelembung aset akibat investasi AI yang membabi buta, guncangan pasar tenaga kerja lantaran otomatisasi, hingga risiko stabilitas keuangan dari pengambilan keputusan berbasis algoritma.
Tak luput pula dari radar adalah isu erosi fiskal akibat aktivitas digital lintas negara yang kian cair.
Purbaya menegaskan, Indonesia siap menjadi mitra aktif dalam merajut tata kelola AI global yang inklusif, dengan membawa suara kepentingan negara berkembang. Tujuannya jelas: mengantisipasi risiko keuangan sistemik sekaligus memastikan "kue" manfaat AI terbagi rata demi pertumbuhan global yang adil.
Di sisi lain, optimisme ekonomi Indonesia tampak masih berotot. Di tengah lesunya perekonomian global, Indonesia mampu menunjukkan taji dengan tumbuh 5,11 persen pada 2025. Purbaya bahkan mematok target lebih tinggi untuk 2026, yakni pada kisaran 5,4 persen hingga 6 persen.
Keyakinan ini berakar pada posisi eksternal yang solid. Tengok saja catatan surplus perdagangan yang konsisten bertahan selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026. Fondasi ini diperkuat dengan konsumsi rumah tangga yang masih bertenaga, inflasi yang jinak, serta defisit fiskal yang terkelola dengan rasio utang terhadap PDB yang rendah.
Meski begitu, pemerintah enggan terlena. Dinamika di Timur Tengah yang berpotensi menyulut harga energi global tetap menjadi perhatian serius. Strateginya? Menyiapkan fiscal buffer atau penyangga fiskal untuk meredam guncangan harga.
“Respons kebijakan pemerintah, yaitu dengan efisiensi pengeluaran negara dan transformasi struktural jangka panjang dengan mempercepat inisiatif hilirisasi,” kata Purbaya.


















