Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Penutupan Selat Hormuz Picu Risiko Lonjakan Biaya Impor BBM RI

Penutupan Selat Hormuz Picu Risiko Lonjakan Biaya Impor BBM RI
ilustrasi Selat Hormuz (pexels.com/Lara Jameson)

Jakarta, FORTUNE - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan biaya impor energi Indonesia setelah Iran dilaporkan menutup akses Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dunia. Penutupan jalur strategis tersebut diperkirakan akan meningkatkan ongkos pengiriman bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied natural gas (LNG) yang selama ini masih banyak diimpor Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) Anggawira menilai Selat Hormuz merupakan koridor utama perdagangan energi global. Gangguan pada jalur ini akan langsung berdampak pada rantai pasok energi, termasuk BBM maupun Liquified Natural Gas (LNG) yang diimpor Indonesia.

“Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz. Setiap eskalasi di kawasan tersebut akan berdampak langsung terhadap lonjakan harga energi global, termasuk biaya impor BBM dan LNG Indonesia yang saat ini masih cukup tinggi,” ujar Anggawira dalam keterangan resminya, Senin (2/3).

Ia mencatat sekitar separuh kebutuhan BBM nasional masih dipenuhi dari impor. Karena itu, penutupan Selat Hormuz dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi global. Lonjakan harga minyak mentah juga dapat memperberat beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada komponen subsidi dan kompensasi energi.

ASPEBINDO juga menyoroti kemungkinan kenaikan harga LNG di pasar spot Asia sebagai dampak konflik global. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya pokok penyediaan listrik di dalam negeri, mengingat sebagian pembangkit listrik Indonesia masih bergantung pada pasokan LNG impor yang mengikuti harga pasar.

“Dalam situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu, HIPMI dan ASPEBINDO menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah antisipatif guna menjaga stabilitas energi nasional dan melindungi daya tahan sektor industri,” ujar Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu.

Sebelumnya, Iran dilaporkan mengambil langkah menutup Selat Hormuz setelah serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu. Kapal-kapal di kawasan Teluk bahkan menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur perairan tersebut.

Selat Hormuz yang berada di Teluk Arab merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati selat ini, menjadikannya salah satu arteri utama dalam distribusi energi internasional. Secara geografis, Iran berada di sisi utara Selat Hormuz dan menguasai sejumlah titik akses penting menuju jalur tersebut. Posisi ini memberi Teheran pengaruh signifikan terhadap lalu lintas energi dunia, termasuk ekspor minyak dunia. Mutlak pembatasan atau penutupan jalur tersebut berpotensi memicu gejolak di pasar minyak global serta meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in News

See More

Jadwal WFA Lebaran 2026 untuk ASN dan Swasta, Ini Aturannya

02 Mar 2026, 17:16 WIBNews