Jakarta, FORTUNE - Indonesia berhasil mengamankan kinerja perdagangan luar negeri sepanjang 2025. Di tengah fluktuasi harga komoditas global, neraca perdagangan nasional mencatatkan selisih positif sebesar US$41,05 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso melaporkan total ekspor Indonesia selama setahun penuh menyentuh US$282,91 miliar. Sementara itu, nilai impor berada pada angka US$241,86 miliar. Amerika Serikat (AS) muncul sebagai kontributor surplus terbesar bagi Indonesia.
Surplus perdagangan dengan AS mencapai US$18,11 miliar. Capaian ini ditopang oleh volume ekspor senilai US$30,96 miliar berbanding impor US$12,85 miliar. Manuver ini resmi menggeser posisi India yang secara historis menempati peringkat pertama penyumbang keuntungan dagang nasional.
“Surplus terbesar kita justru ke Amerika, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Dulu biasanya yang pertama India ya, tapi sekarang nomor satu Amerika,” kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6/2).
India kini menempati urutan kedua dengan surplus US$13,49 miliar. Menyusul di peringkat ketiga, Filipina menyumbang surplus US$8,42 miliar. Selanjutnya, Belanda dan Vietnam turut memperkuat neraca dengan masing-masing mencatat surplus US$4,81 miliar dan US$4,47 miliar.
Prestasi ini diraih saat harga komoditas utama Indonesia sedang berada di bawah tekanan. Harga crude palm oil (CPO) terkoreksi 16,2 persen, sementara batu bara merosot hingga 19,7 persen. Meski demikian, total ekspor nasional tetap tumbuh positif 6,15 persen.
Ketangguhan ekonomi domestik semakin terlihat pada sektor nonmigas yang mencatatkan pertumbuhan hingga 7,66 persen. Hal ini mencerminkan keberhasilan diversifikasi pasar dan kuatnya fundamental sektor manufaktur nasional. Capaian 2025 ini juga menandai rekor surplus Indonesia selama 68 bulan berturut-turut.
Pemerintah tetap memandang optimis namun realistis terhadap dinamika ekonomi global di masa depan. Pendekatan strategi perdagangan yang adaptif akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan tren positif ini.
“Kalau kita lihat perkembangan global sekarang ini, kita juga harus realistis. Sehingga, kalau kita menargetkan, kita juga optimistis bahwa capaian yang lebih tinggi dari outlook ini bisa kita lakukan,” kata Budi.
