Jakarta, FORTUNE — Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, berkomitmen menyelesaikan kendala tingginya harga bahan baku serta tekanan produk impor yang dikeluhkan para pelaku usaha nasional usai menerima audiensi dari Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) dan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) pada Rabu (14/10).
Kementerian Perindustrian kini menjajaki skema pemanfaatan stok beras Perum Bulog guna menekan biaya produksi industri pengolahan pangan, sekaligus mengupayakan perlindungan bagi sektor strategis manufaktur.
Pemerintah menegaskan dukungan penuh terhadap penguatan daya saing manufaktur dalam negeri dari gejolak pasokan dan persaingan harga global.
“Kementerian Perindustrian akan terus memberikan dukungan agar industri nasional makin berdaya saing, termasuk mencarikan solusi terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi,” kata Sarmuji dalam keterangannya, Rabu (14/10).
Dalam pertemuan tersebut, GAPMMI menyoroti lonjakan harga beras pecah yang menjadi bahan baku utama industri pengolahan pangan, seperti produsen bihun. Sarmuji membeberkan harga beras pecah impor saat ini berkisar Rp5.700-6.000 per kilogram, sedangkan harga di pasar domestik melambung hingga Rp11.000 per kilogram.
Lebarnya selisih harga ini berpotensi menggerus daya saing industri pengolahan pangan nasional. Guna mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Perindustrian membuka opsi pemanfaatan persediaan beras milik Perum Bulog yang tersimpan lama agar dapat diserap oleh pelaku industri dengan harga masuk akal.
Skema ini dinilai memberikan efisiensi ganda, yaitu menyediakan bahan baku terjangkau bagi pelaku usaha sekaligus mengoptimalkan nilai ekonomi persediaan beras sebelum mengalami penurunan kualitas akibat masa penyimpanan terlalu panjang.
“Kami sedang mencari cara agar stok beras Bulog yang sudah lama tersimpan dapat dimanfaatkan industri, tentunya dengan harga yang bisa ditoleransi oleh pelaku usaha. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk membahas persoalan ini,” ujar Sarmuji.
Sementara itu, Ketua GAPMMI, Adhi S. Lukman, menekankan kepastian pasokan bahan baku sangat menentukan dalam menjaga kelangsungan operasional industri makanan dan minuman, sekaligus menjaga keterjangkauan harga produk di tingkat konsumen.
GAPMMI berharap penetapan neraca komoditas untuk komoditas vital seperti gula, garam, jagung, dan daging dapat dipercepat agar kebutuhan industri pada awal 2027 dapat terjamin.
“Pemenuhan bahan baku diperlukan untuk menjaga daya saing industri sekaligus memastikan produk makanan dan minuman tetap terjangkau bagi masyarakat,” kata Adhi.
Menanggapi permintaan tersebut, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan GAPMMI. Menurut evaluasi Kemenperin, ketersediaan bahan baku secara agregat hingga akhir 2026 tergolong mencukupi, tetapi penyelarasan distribusi dengan kebutuhan riil setiap pelaku industri perlu terus dioptimalkan.
Selain isu sektor makanan dan minuman, audiensi tersebut turut mengemukakan keluhan mengenai derasnya impor baja yang menekan tingkat utilisasi industri baja domestik.
