Jakarta, FORTUNE - Kenaikan harga minyak dunia akibat perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel mulai memicu kekhawatiran terhadap potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan harga minyak global saat ini telah mencapai US$115 per barel. Meski demikian, ia memastikan harga BBM di dalam negeri masih dalam kondisi stabil.
“Saya pikir Bapak Presiden [Prabowo Subianto] punya hatilah untuk memperhatikan rakyat kecil,” kata dia di hadapan wartawan sebagaimana disiarkan via kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (31/3)
Ia menegaskan kebijakan terkait BBM subsidi sepenuhnya berada di tangan Presiden, dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat.
“Percayalah, nanti tunggu tanggal mainnya Bapak Presiden akan memutuskan seperti apa untuk kebaikan rakyat bangsa dan negara,” kata Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil juga menjelaskan mengenai kabar yang beredar mengenai harga BBM nonsubsidi akan naik drastis pada 1 April 2026.
Menurutnya, BBM nonsubsidi, khususnya untuk sektor industri, pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar. Hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM tahun 2022 yang membagi formulasi harga menjadi dua kategori, yakni industri dan non-industri.
“Kalau yang industri, tanpa diumumkan pun dia terus terjadi berdasarkan harga pasar. Jadi mau diumumkan atau tidak, dia akan mengikuti harga pasar,” ujarnya.
Ia mencontohkan BBM dengan oktan tinggi seperti RON 95 hingga RON 98 umumnya digunakan oleh "kalangan mampu." Untuk jenis ini, negara tidak memberikan subsidi sehingga fluktuasi harga sepenuhnya mengikuti dinamika pasar global.
Sementara itu, fokus utama pemerintah tetap pada BBM subsidi. Bahlil kembali menekankan bahwa keputusan terkait subsidi akan diumumkan pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Isu kenaikan harga BBM mencuat setelah ada dokumen negara berisi proyeksi lonjakan harga BBM nonsubsidi per April 2026 beredar di media sosial. Dalam dokumen tersebut, harga Pertamax terlihat diproyeksi naik dari Rp12.300 menjadi Rp17.850 per liter. Bahkan, BBM jenis solar nonsubsidi seperti Pertamina Dex diproyeksikan menembus Rp23.950 per liter.
Namun, PT Pertamina (Persero) memastikan informasi tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan hingga kini belum ada keputusan resmi terkait perubahan harga BBM.
“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (30/3).
Pertamina juga mengimbau masyarakat menunggu pengumuman resmi yang akan disampaikan melalui kanal perusahaan. Selain itu, publik diminta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
