Comscore Tracker
NEWS

Pengamat: Wajar Bila Pertumbuhan Ekonomi Q2 Capai 5% Usai Lebaran

Kontribusi Lebaran pada konsumsi rumah tangga cukup tinggi.

Pengamat: Wajar Bila Pertumbuhan Ekonomi Q2 Capai 5% Usai LebaranPedagang menawarkan makanan di pusat oleh-oleh kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (8/5). (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE - Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menyatakan estimasi 5 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2022 yang bertepatan dengan masa Lebaran cukup wajar.

“Lebaran tahun ini memang sudah ditunggu khususnya oleh kelas menengah atas yang selama ini menahan uang di bank. Apalagi ada dorongan THR swasta yang wajib dibayar penuh sehingga kontribusi Lebaran terhadap konsumsi rumah tangga cukup tinggi,” ujarnya kepada Fortune Indonesia, Senin (9/5).

Bhima mengatakan mudik tahun ini memang cukup masif, mengingat dua tahun tak bisa melaksanakannya akibat pandemi. Masyarakat pun cenderung mengonsumsikan uangnya dengan cukup signifikan, terutama di daerah yang jadi tujuan mudik.

Secara umum, menurut Bhima, kuartal yang bersamaan dengan Lebaran akan memberi sumbangan besar ke pertumbuhan sepanjang tahun. “Peredaran uang di kuartal selama Lebaran diperkirakan mencapai Rp250 triliun atau tumbuh 60 persen secara year on year,” ujarnya.

Tantangan yang masih akan dihadapi

ilustrasi : inflasi

Namun, melihat pertumbuhan yang terjadi selama Lebaran 2022, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, mengatakan pemerintah dan masyarakat juga perlu mewaspadai sejumlah tantangan yang masih akan dihadapi di masa depan. Pertumbuhan ekonomi selama mudik dinilai belum cukup untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5 persen hingga 2022 berakhir.

“Ke depan tantangan paling nyata adalah inflasi global yang sangat tinggi dan disertai dengan kebijakan peningkatan suku bunga the Fed. Bisa menjadi alarm bahaya bagi Perekonomian Indonesia dan negara berkembang lainnya,” ujar Huda kepada Fortune Indonesia, Senin (9/5).

Selain itu, lonjakan kasus Covid-19, stabilitas nilai tukar, hingga tekanan daya beli masyarakat, masih akan jadi tantangan yang harus segera diantisipasi. Apalagi, saat THR masyarakat akan menipis dan habis untuk memenuhi kebutuhan pokok harian di masa setelah Lebaran.

Rekomendasi bagi pemerintah

Sejumlah pengunjung mengantre untuk menaiki bus Trans Metro Pasundan di kawasan Alun-alun Bandung, Jawa Barat, Minggu (8/5).

Untuk itu, kembali ke Bhima, pemerintah diharapkan segera mengantisipasi berbagai tantangan yang mengadang pertumbuhan perekonomian Indonesia. Menurutnya, ada 3 cara yang dapat dilakukan pemerintah sebagai langkah antisipasi.

“Pertama, jaga stabilitas harga energi dan pangan dengan tambahan subsidi BBM, listrik dan LPG serta subsidi pupuk. Alokasi anggaran subsidi harus dinaikkan,” ujar Bhima.

Kemudian, kata Bhima, penguatan jaring pengaman sosial harus ditingkatkan, khususnya bantuan sosial tunai untuk mengantisipasi turunnya daya beli masyarakat kelompok 40 persen ekonomi bawah. “Ketiga, antisipasi gejolak eksternal dengan perluasan pasar ekspor dan memperkuat diplomasi dagang sehingga kinerja surplus perdagangan tetap terjaga,” katanya.

Related Articles