Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
BPS: Lonjakan Harga Plastik Belum Terasa ke Konsumen
ilustrasi sampah plastik (pexels.com/SHVETS production)
  • Bobot konsumsi produk plastik sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan utama masyarakat.

  • Data BPS menunjukkan tarif listrik, bensin, dan beras masih menjadi komoditas dengan bobot terbesar dalam keranjang konsumsi rumah tangga.

  • Dampak kenaikan harga plastik baru akan terasa jika produsen makanan dan minuman menaikkan harga produk berkemasan plastik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Data BPS menunjukkan bahwa kenaikan harga plastik belum berdampak signifikan pada inflasi maupun pengeluaran masyarakat, menandakan stabilitas daya beli publik tetap terjaga. Struktur konsumsi yang masih berfokus pada kebutuhan pokok seperti listrik, bensin, dan beras membantu meredam efek guncangan harga komoditas non-esensial, menjaga keseimbangan ekonomi rumah tangga secara umum.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Lonjakan harga plastik di pasar domestik rupanya dipandang belum menggoyang pilar inflasi nasional maupun isi dompet publik. Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan daya sengat komoditas ini terhitung mini lantaran bobot konsumsi produk berbahan polimer tersebut dalam keranjang belanja rumah tangga masih kalah mentereng dibandingkan dengan kebutuhan pokok macam listrik, bensin, dan beras.

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026, Senin (18/5), Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, membeberkan cetak biru pengeluaran masyarakat yang masih dikuasai hajat hidup dasar.

Data BPS per April 2026 menunjukkan tarif setrum memuncaki takhta pengeluaran dengan bobot 4,9 persen, mengekor di belakangnya bensin dengan 4,4 persen, dan beras 3,4 persen.

“Mengapa harga plastik yang di pasaran meningkat dan belum terasa langsung kepada konsumen? Karena kalau kita lihat memang bobot terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik,” ujar Amalia.

Bukan cuma itu. Sisa perputaran uang masyarakat habis tersedot untuk urusan papan dan kebutuhan penunjang lain. Kontrak rumah menyerap 3,29 persen, sewa rumah 2,96 persen, hidangan nasi dengan lauk 2,32 persen, langganan jagat maya atau internet 2,31 persen, hingga ongkos perguruan tinggi 2,17 persen.

Walhasil, perubahan sekecil apa pun pada tarif listrik bakal langsung berpengaruh pada angka inflasi makro. Amalia mencontohkan, kala pemerintah meluncurkan diskon tarif listrik, kurva inflasi langsung melorot memicu deflasi. Sebaliknya, begitu harga kembali ke setelan normal, inflasi seketika melonjak.

“Tarif listrik itu bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat adalah yang terbesar,” katanya.

Sementara itu, riak kenaikan harga bensin dinilai belum terlalu bertenaga mengerek inflasi secara mendasar. Pasalnya, mayoritas konsumen masih bersandar pada bahan bakar bersubsidi.

Kondisi tersebut sangat kontras jika menyigi produk plastik secara langsung. Dalam daftar 20 jawara komoditas penyumbang konsumsi rumah tangga, produk turunan minyak bumi ini nyaris tak teraba.

Tengok saja angka lansiran BPS: bobot botol minuman plastik cuma bertengger pada 0,0139 persen dalam keranjang belanja. Lemari plastik bahkan lebih kerdil lagi, yakni 0,0026 persen.

“Botol minuman plastik, lemari plastik ini bobotnya di dalam konsumsi keranjang masyarakat relatif sangat-sangat kecil,” ujar Amalia.

Kendati begitu, publik jangan terburu-buru bersenang hati. Dampak rembetan tetap mengintai dari pabrik. Konsumen baru akan merasakan hantaman asli jika para produsen makanan dan minuman mulai kehabisan napas dan mengoper beban biaya kemasan plastik ke harga jual produk jadinya.

“Yang dirasakan oleh konsumen adalah bukan harga plastiknya, tetapi harga air kemasannya,” ujarnya.

Dalam kalkulasi BPS, produk air kemasan bercokol sebagai komoditas ke-17 dengan bobot konsumsi 1,07 persen dan mengalami inflasi tahunan 1,36 persen pada April 2026.

“Transmisi kenaikan harga plastik kepada konsumen itu bergantung dari seberapa besar produsen makanan yang menggunakan plastik dalam pembungkusnya kemudian menaikkan harga barangnya. Itulah yang nanti dirasakan konsumen dan tercermin di dalam indeks harga konsumen,” katanya. 

Apakah kenaikan harga plastik akan berdampak ke konsumen?

Editorial Team