Jakarta, FORTUNE - Christina Maria Regina Suriadjaja, co-founder dan Chief Strategy Officer Travelio, merupakan generasi ketiga dari keluarga bisnis besar Surya Internusa.
Meski lahir dari lingkungan keluarga pengusaha, perjalanan Christina menuju dunia bisnis tidak berlangsung secara instan. Ia justru tumbuh jauh dari atmosfer korporasi dan baru menyadari besarnya warisan keluarga ketika beranjak dewasa.
Ketika Fortune Indonesia menemuinya di ruang rapat bergaya industrial-modern, Christina mengaku baru benar-benar memahami skala bisnis keluarganya ketika kembali ke Jakarta pada usia remaja.
“Sejujurnya, saya baru benar-benar sadar skala bisnis keluarga saat kembali ke Jakarta pada usia sekitar 16 atau 19 tahun,” ujarnya.
Sebelumnya, Christina menghabiskan masa kecilnya di Singapura selama hampir satu dekade. Ia bersekolah di Singapore Sports School dan menekuni olahraga netball secara serius.
Hidup di asrama membuatnya terbiasa dengan disiplin tinggi sekaligus kemandirian sejak dini. Dunianya saat itu lebih banyak diisi latihan olahraga, sekolah, dan pergaulan dengan teman-teman internasional.
“Itu murni keputusan saya. Orang tua selalu mendukung kemandirian saya, memberi kepercayaan penuh untuk menentukan jalan hidup sendiri,” katanya.
Kesadaran mengenai akar bisnis keluarga justru muncul dari momen sederhana di rumah sang kakek, Benjamin Suriadjaja. Setiap akhir pekan, keluarga rutin berkumpul untuk sarapan bersama. Di meja yang dipenuhi koran dan majalah, Christina sempat menemukan tumpukan artikel lama yang disimpan kakeknya. Artikel-artikel itu banyak mengulas perjalanan bisnis keluarga, termasuk sejarah Astra yang didirikan oleh William Soeryadjaya, kakak Benjamin.
Penemuan kecil itu menjadi titik awal pemahamannya mengenai perjalanan panjang keluarga dalam dunia bisnis. Dari sana, ayahnya mulai bercerita tentang sejarah Surya Internusa setelah era Astra. Namun Christina menekankan bahwa hubungan keluarganya tidak pernah dibangun semata-mata di atas percakapan bisnis.
Menurutnya, nilai yang paling kuat diwariskan justru berupa etos hidup: integritas, tanggung jawab, dan ketangguhan. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi kompas dalam perjalanan hidupnya.
Pada 2015, ketika usianya belum genap 25, Christina bersama dua rekannya, Hendry Rusli dan Christie Tjong, mendirikan Travelio—platform manajemen properti berbasis teknologi. Sebagai chief strategy officer, ia bertanggung jawab merancang strategi bisnis, membangun hubungan dengan investor, serta menentukan arah pertumbuhan perusahaan.
“Mendirikan Travelio adalah perjalanan yang sangat menantang. Saya harus belajar dari nol—tentang teknologi, industri properti, hingga dunia investasi,” ujarnya.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Namun melalui konsistensi dan jaringan yang tepat, Travelio perlahan menemukan pijakannya. Hingga akhir 2024, perusahaan tersebut telah mengelola lebih dari 15.500 unit apartemen di 14 kota dan menargetkan 17.000 unit pada 2025.
Bagi Christina, kesuksesan bukan sekadar soal bisnis atau warisan keluarga. Ia memegang pesan yang selalu ia ingat hingga kini: “Beranilah bermimpi jangka panjang, tapi tetap berpijak pada nilai.”