Sebelumnya, pada Jumat (6/2), Danantara telah melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi secara serentak di 13 daerah. CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan total investasi untuk enam proyek tersebut mencapai sekitar 7 miliar dolar AS atau sekitar Rp110 triliun.
“Dengan 6 proyek ini akan kurang lebih investasinya kami itu mencapai 7 miliar dolar AS, atau kurang lebih 110 triliun. Dan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih 3.000 lapangan pekerjaan,” ujar Rosan di Jakarta.
Seluruh pendanaan berasal dari Danantara dan proyek-proyek tersebut dikerjakan oleh sejumlah BUMN. Di sektor pertambangan, terdapat fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit, alumina, dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, termasuk Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 yang digarap MIND ID.
Di sektor energi baru terbarukan, terdapat pabrik bioetanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi yang melibatkan PTPN dan Pertamina, serta proyek biorefinery penghasil bioavtur di Cilacap yang digarap Pertamina Group.
Pada sektor pangan, ID FOOD menjalankan proyek peternakan unggas terintegrasi di sejumlah daerah seperti Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Selain itu, PT Garam membangun pabrik garam di Sampang (Madura), Manyar (Gresik), dan Segoromadu 2 (Gresik).
Rosan menyebut tahap pertama tersebut merupakan bagian dari agenda hilirisasi yang lebih luas. “Ini adalah fase pertama karena kita melihat akan ada total akan ada 18 proyek hilirisasi yang kami canangkan akan kami selesaikan dalam waktu sesegera mungkin,” imbuhnya.