Prabowo: 6 Proyek Hilirisasi Rp101 Triliun Mulai Dibangun 2026

- Pemerintah mempercepat agenda hilirisasi nasional pada awal 2026 dengan groundbreaking 6 proyek senilai Rp101 triliun.
- Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi baru terbarukan, hingga pangan, seperti pengembangan industri smelter aluminium dan fasilitas produksi bioavtur.
- Pemerintah menargetkan total 18 proyek hilirisasi dapat dieksekusi hingga Februari dan Maret 2026 untuk memperkuat struktur industri nasional.
Jakarta, FORTUNE — Pemerintah mempercepat agenda hilirisasi nasional pada awal 2026 melalui pelaksanaan groundbreaking 6 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101,14 triliun (kurs Rp16.857).
Arahan percepatan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih yang digelar di Hambalang, Bogor, pada Minggu (11/1).
Agenda percepatan proyek hilirisasi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta mendorong investasi sektor manufaktur, energi, dan pangan.
Rapat tersebut juga membahas penguatan industri tekstil, pengembangan teknologi semikonduktor, serta agenda peresmian infrastruktur energi strategis.
Arahan Presiden dan jadwal groundbreaking
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa salah satu fokus rapat terbatas adalah kesiapan pelaksanaan peletakan batu pertama proyek hilirisasi dalam waktu dekat.
“Perkembangan rencana groundbreaking 6 titik baru proyek hilirisasi senilai 6 miliar dolar AS di awal Februari 2026,” tulis Teddy dalam unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet, dikutip Senin (12/1).
Rapat tersebut dihadiri antara lain oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Selain proyek hilirisasi, Presiden juga dijadwalkan meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada Senin (12/1), yang menjadi salah satu proyek kilang terbesar di Indonesia.
Daftar 6 proyek hilirisasi yang mulai dieksekusi
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebelumnya telah memaparkan rincian 6 proyek hilirisasi yang mulai dibangun secara bertahap sejak Januari 2026. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi baru terbarukan, hingga pangan.
Pertama, pengembangan industri smelter aluminium dari alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi mencapai 2,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp40,45 triliun. Proyek ini menjadi salah satu investasi terbesar dalam paket hilirisasi dan bertujuan memperkuat industri aluminium nasional.
Kedua, fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) dari bauksit, juga berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi sekitar 890 juta dolar AS atau sekitar Rp15 triliun. Fasilitas ini memproses bauksit menjadi alumina sebagai bahan baku utama aluminium.
Ketiga, fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, senilai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,54 triliun. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat berbasis nabati yang dikembangkan untuk mendukung transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada avtur fosil.
Keempat, pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,68 triliun. Proyek ini disebut telah mulai berjalan dan menjadi bagian dari hilirisasi sektor perkebunan.
Kelima, pengembangan fasilitas bioetanol dengan nilai investasi sekitar 80 juta dolar AS atau sekitar Rp1,34 triliun. Bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang digunakan sebagai campuran bensin, meskipun lokasi proyek ini belum dirinci.
Keenam, pengembangan lima fasilitas budidaya unggas dari total rencana 12 titik lokasi. Proyek ini difokuskan pada hilirisasi sektor pangan untuk memperkuat rantai pasok protein hewani nasional.
Peran Danantara dan target 18 proyek hilirisasi
Enam proyek tersebut berada dalam portofolio awal Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Rosan Roeslani menyatakan bahwa proyek smelter aluminium menjadi proyek pertama yang memasuki tahap groundbreaking pada akhir Januari 2026.
“Yang groundbreaking pertama ya ini yang akhir Januari. Pengembangan smelter aluminium dari alumina,” kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (8/1).
Pemerintah menargetkan total 18 proyek hilirisasi dapat dieksekusi hingga Februari dan Maret 2026. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa enam proyek akan memulai pembangunan pada Januari, dengan proyek lanjutan mencakup sektor energi, pengelolaan sampah, hingga gasifikasi batu bara.
“Nanti dilanjutkan di bulan Februari dan di bulan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program hilirisasi yang sudah kita sepakati,” ujar Prasetyo di Hambalang, Selasa (6/1).
FAQ seputar 6 proyek hilirisasi
| Kapan groundbreaking 6 proyek hilirisasi dilakukan? | Groundbreaking direncanakan berlangsung mulai akhir Januari hingga awal Februari 2026. |
| Berapa nilai investasi 6 proyek hilirisasi tersebut? | Total nilai investasi mencapai sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp101 triliun. |
| Siapa yang mengelola proyek hilirisasi ini? | Proyek-proyek tersebut berada di bawah koordinasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). |


















