NEWS

Survei: 77 Tenaga Kesehatan RI SIap Adopsi Solusi Digital

Future Health Index (FHI) Indonesia 2023.

Survei: 77 Tenaga Kesehatan RI SIap Adopsi Solusi DigitalPeluncuran FHI Indonesia 2023/Dok. Fortune idn/Desy y.
14 December 2023
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Sejumlah profesional dan pemimpin industri Kesehatan bersiap memanfaatkan teknologi guna mengatasi kekurangan tenaga kerja, terutama di daerah pedesaan. Sebanyak 77% responden aktif menggunakan atau berencana menggunakan solusi kesehatan digital untuk tujuan ini, melebihi rata-rata global (56%). 

Selain itu, para profesional kesehatan muda sangat tertarik untuk bekerja di institusi rumah sakit yang memiliki teknologi canggih. 

Hal itu terungkap dalam Future Health Index (FHI) Indonesia 2023 rilisan perusahaan teknologi kesehatan Royal Philips. Future Health Index (FHI) 2023 merupakan survei yang diselenggarakan oleh Philips di 14 negara, termasuk Indonesia. Astri menyebut Indonesia merupakan pasar yang penting sehingga banyak responden Indonesia yang dilibatkan dalam survei tersebut. Dari 3.000 responden di 14 negara, 200 berasal dari Indonesia, yang merupakan pemimpin pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan muda.

Dalam survei, sepertiga dari responden Indonesia memberikan prioritas akses ke kecerdasan buatan dalam perawatan kesehatan dan pengiriman perawatan terhubung saat memilih tempat kerja. Mereka menyebutkan pelatihan yang lebih baik tentang teknologi baru (46%) dan akses ke alat diagnostik canggih (42%) sebagai faktor kunci untuk meningkatkan perawatan pasien. 

Berdasarkan hampir 3.000 tanggapan dari 14 negara, termasuk Indonesia, laporan ini mengeksplorasi bagaimana sistem kesehatan berinovasi dalam memberikan pelayanan perawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang terus berkembang. 

Direktur Utama Philips Indonesia, Astri Ramayanti, mengatakan, laporan Philips Future Health Index 2023 Indonesia kali ini memperkuat urgensi perlunya adopsi teknologi untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan berorientasi pada pasien.

"Laporan ini juga menekankan kekuatan transformatif inovasi digital dalam meredefinisi pemberian layanan kesehatan guna menangani kompleksitas lanskap kesehatan di Indonesia serta mengakomodasi kebutuhan pasien yang semakin berkembang," ujarnya.

Perlu Riset dan Pengembangan

Terkait hal ini, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, meminta perusahaan kesehatan membuka pusat penelitian dan pengembangan untuk melatih dokter Indonesia dan mengembangkan kemampuannya.

“Jika ingin membuka usaha di Indonesia, pemerintah Indonesia akan memprioritaskan pembangunan pusat penelitian dan pengembangan. Setelah peralatannya siap, kita akan memiliki tenaga untuk mengoperasikan mesin tersebut,” ujarnya di Jakarta, Selasa (12/12).

Menurutnya, pusat penelitian dan pengembangan diperlukan untuk membantu para praktisi kesehatan bertukar pandangan dan mendapatkan pelatihan untuk mengoperasikan peralatan medis terkini di rumah sakit.

Investasi AI untuk pengiriman perawatan dan efisiensi operasional

Pemimpin kesehatan Indonesia semakin beralih ke kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan pemberian perawatan dan efisiensi operasional. Saat ini, hampir sepertiga (32%) berinvestasi dalam teknologi kecerdasan buatan, dengan 76% berencana melakukannya dalam tiga tahun mendatang. 

Laporan ini menyoroti minat bersama dalam kecerdasan buatan di antara kedua kelompok, baik pemimpin maupun profesional muda. Kedua kelompok memprioritaskan penggunaan kecerdasan buatan untuk memprediksi hasil pasien, mendukung keputusan klinis, dan mengoptimalkan efisiensi operasional. 

Related Topics