Comscore Tracker
NEWS

Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi 30 Tahun Terakhir

Terkerek kenaikan biaya makanan hingga properti.

Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi 30 Tahun TerakhirShutterstock/Luis A. Orozco

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Inflasi Amerika Serikat pada Oktober melonjak 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai 5,4 persen. Sementara secara bulanan, indeks harga dari September ke Oktober naik 0,9 atau tertinggi sejak Juni.

Meroketnya indeks harga konsumen ke level tertinggi sejak 1990 itu disebabkan oleh kenaikan biaya makanan, gas, dan perumahan.

Departemen Tenaga Kerja mencatat, inflasi membuat kenaikan signifikan atas upah dan gaji pekerja di AS dalam beberapa bulan terakhir berdampak minim terhadap daya beli. 

Mengutip Fortune.com kondisi ini membuat pemerintahan Biden dan Demokrat pening. Karenanya, tekanan pada bank sentral AS (The Fed) kian menguat karena mempertimbangkan seberapa cepat upayanya untuk meningkatkan ekonomi (tapering) ditarik.

Meski demikian, pembukaan lapangan pekerjaan dan kenaikan gaji jauh lebih sehat selama pemulihan pandemi ketimbang setelah resesi satu dekade lalu. Namun, berbeda dari tahun-tahun setelah penurunan itu, inflasi sekarang mempercepat dan mengurangi kepercayaan orang Amerika terhadap ekonomi, menurut survei.

Pekan lalu, The Fed menyampaikan bahwa inflasi di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir mendorong lembaga tersebut untuk mulai mengurangi stimulus luar biasa yang telah digelontorkan sejak resesi pandemi melanda pada awal tahun lalu.

Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa pihaknya akan segera mengumumkan pemangkasan US$120 miliar dalam pembelian obligasi bulanan segera setelah bulan ini. Sebelumnya, pembelian tersebut dimaksudkan untuk menjaga suku bunga pinjaman jangka panjang tetap rendah untuk mendorong peminjaman dan pengeluaran.

Usai kebijakan pembelian obligasi itu berakhir pada pertengahan 2022, Powell akan beralih ke keputusan yang lebih sulit yakni kapan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek dari nol, yang diberlakukan sejak COVID-19 menghantam ekonomi pada Maret 2020. 

Kebijakan kenaikan suku bunga itu dimaksudkan untuk memastikan inflasi tidak lepas kendali. Tetapi, risikonya adalah mengecilkan pengeluaran dan melemahkan pasar kerja dan ekonomi sebelum pulih sepenuhnya.

“Kami tidak memiliki peta jalan untuk apa yang kami alami,” kata Diane Swonk, kepala ekonom di Grant Thornton seperti dikutip Fortune.com. Menurutnya, Powell dalam posisi harus mendukung pemulihan dan tetap waspada terhadap inflasi.

Rupiah Terpukul

Sementara itu, lonjakan inflasi membuat nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta terkoreksi. Pagi ini rupiah dibuka melemah 43 poin atau 0,31 persen ke posisi Rp14.297 per dolar AS dibandingkan Rp14.254 per dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya.

"Pasar pada hari ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya data inflasi AS yang mengalami kenaikan signifikan pada bulan Oktober 2021 menjadi 6,2 persen, tertinggi dalam 30 tahun," kata Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya, seperti dikutip Antara.

Menurut Rully, hal tersebut berdampak kepada kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun dan kemungkinan besar akan berdampak pada pergerakan dolar hari ini.

Meski demikian, pada pukul 14.00 WIB, rupiah kembali ke level Rp14.273. "Untuk hari ini mungkin rupiah masih tertekan dan bergerak pada rentang Rp14,205 dan Rp14.286," ujar Rully.

Related Articles