Comscore Tracker
NEWS

Jaga Momentum Pertumbuhan, Indef Minta Listrik hingga Gas Tak Naik

Target pertumbuhan ekonomi 5,2% bisa tercapai di 2022.

Jaga Momentum Pertumbuhan, Indef Minta Listrik hingga Gas Tak NaikDeretan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (25/4/2022). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyarankan pemerintah untuk menunda kenaikan harga gas 3 kg, BBM jenis Pertalite hingga tarif listrik. Pasalnya kebijakan tersebut bakal mengganggu kelanjutan pertumbuhan ekonomi yang telah kembali ke angka 5 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Wakil Direktur INDEF Eko Listiyanto kenaikan komoditas tersebut akan memberikan efek domino pada harga bahan baku lokal dan memaksa industri intermediate dan hilir melakukan efisiensi. Sehingga, dikhawatirkan akan terjadi PHK yang menyebabkan angka pengangguran meningkat.

"Impact-nya kualitas, kontinuitas dan konsistensi pertumbuhan ekonomi tidak mampu terjaga," tuturnya dalam konferensi pers bertajuk Evaluasi "Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2022: Jaga Momentum, Perbaikan", Rabu (11/5).

Kemudian, kenaikan harga-harga tersebut juga berpotensi mendorong biaya produksi dan menyebabkan inflasi. Ini akan berimbas pada menurunnya permintaan barang/jasa sehingga konsumen berpotensi memilih produk impor dengan harga jual yang lebih rendah. Dus, pada taraf tertentu, hal ini dapat menurunkan daya saing produk lokal dibandingkan produk impor.

Konsekuensinya pemerintah tak akan dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen di tahun ini. Atau pemerintah harus mengeluarkan berbagai insentif baik terhadap industri pengolahan yang terdampak, juga terhadap daya beli masyarakat yang keduanya akan semakin mengkompensasi terhadap kualitas pertumbuhan yang rendah.

"Walaupun sudah lima persen, upaya untuk bisa memperbaiki kualitas ini penting sehingga harapannya bisa tumbuh lebih tinggi dan mencapai target sesuai yang telah ditentukan pemerintah," jelasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan di atas 5% ini, meneruskan pertumbuhan pada kuartal IV-2021 yang sebesar 5,02 persen.

Target bisa tercapai

Dalam kesempatan sama, Peneliti ekonomi makro dan keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama menyatakan Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,2 persen.

Pasalnya, di triwulan I-2022, hampir seluruh sektor lapangan usaha telah mengalami pertumbuhan serta pemulihan. Beberapa di antaranya adalah pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, industri listrik dan gas, konstruksi, transportasi dan pergudangan serta jasa keuangan dan real estate.

Hanya ada empat sektor lapangan usaha yang mengalami penurunan pertumbuhan dibanding triwulan I-2021 yaitu informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, serta pertanian, kehutanan dan perikanan sekaligus pengadaan air, pengelolaan samah, limbah dan daur ulang.

Meski demikian, Riza mengingatkan pemerintah tetap perlu mengakselerasi dan mengatasi tantangan ekonomi di triwulan berikutnya seperti inflasi. Terlebih, inflasi global dapat berpengaruh ke Indonesia melalui perdagangan karena bahan-bahan baku untuk industri pengolahan dalam negeri banyak yang masih impor.

“Sehingga itu akan mempengaruhi industri kita,” ujar Riza.

Related Articles