Comscore Tracker
NEWS

Kerugian Ekonomi Akibat Sampah Makanan Capai Rp551 Triliun per Tahun

Sampah makanan 39,8% dari total sampah di Indonesia.

Kerugian Ekonomi Akibat Sampah Makanan Capai Rp551 Triliun per TahunIlustrasi limbah organik. (Pixabay/ René Schué)

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) menaksir kerugian ekonomi akibat sampah sisa makan di Indonesia sekitar Rp213-551 triliun per tahun.

Karena itu, peningkatan volume sampah dari tahun ke tahun selalu menjadi tantangan besar yang dihadapi pemerintah. Terlebih, sampah makanan berkontribusi sekitar 39,8 persen dari total sampah tersebut.

"Sampah makanan kalau kita lihat berkontribusi 39,8 persen dari total sampah, sehingga 2000-2019 ada sisa makanan sebanyak 23-48 juta ton per tahun," ujar Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti dalam webinar Green Economy Outlook 2022, Selasa (22/2).

Menurut Amalia, mengubah perilaku masyarakat ke arah sustainable consumption menjadi sangat penting untuk mengurangi volume sampah di masa mendatang. 

Apalagi, Indonesia ingin masuk ke era ekonomi hijau di mana ekonomi sirkular dengan meminimalisasi jumlah sampah dalam kegiatan produksi dan konsumsi akan menjadi tren.

"Tantangan buat kita untuk menuju ekonomi hijau adalah pengeolahan sampah dan limbah di Indonesia. Di mana ini sebenarnya jadi isu krusial karena volume sampah semakin tahun semakin meningkat sementara tempat penimbunan sampah menyebabkan polusi dan emisi yang tidak sedikit," tuturnya.

Tujuan SDGs

Selain itu, pengurangan volume sampah juga menjadi bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) serta mengurangi pencemaran lingkungan baik di darat dan laut.

"Dan ini sebenarnya kalau kita kaitkan dengan salah satu goal dari SDG's adalah bagimana kita bisa menurunkan food waste atau sisa sampah makanan," imbuh Amalia.

Di luar sampah makanan, ada pula masalah sampah plastik yang jadi masalah tak kunjung terselesaikan di Indonesia dan banyak negara, tapi bisa diselesaikan dengan ekonomi sirkular.

"Pada 2017, ada 650 ribu ton sampah pelastik masuk ke danau sungai dan laut. Ini nanti tentu penerapan ekonomi sirkular yang merupakan bagian dari ekonomi hijau ini akan menjadi penting bagaimana kita mengolah limbah dan sampah jadi produk yang lebih berharga dan bisa kita gunakan ulang," tandasnya.

Related Articles