Comscore Tracker
NEWS

Subsidi Pertalite Tembus Rp9.950 per Liter, Solar Rp13.000 per Liter

Pertamax juga masih disubsidi Rp5.540 per liter.

Subsidi Pertalite Tembus Rp9.950 per Liter, Solar Rp13.000 per LiterDirektur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati (kanan) berbincang dengan operator SPBU saat melakukan sidak di SPBU By pass Soekarno Hatta Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (3/4). (ANTARAFOTO/Nova Wahyudi)

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati, mengatakan harga keekonomian produk BBM yang dijual perusahaanya jauh di atas harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini menyebabkan alokasi subsidi energi dalam APBN 2022 membengkak. 

Ia mencontohkan, untuk BBM jenis Solar, nilai keekonomiannya Rp18.150 per liter. Sementara saat ini, Pertamina masih menjualnya dengan harga Rp5.150 per liter. Itu artinya untuk tiap liter Solar yang dikonsumsi masyarakat, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp13 ribu.

Tak hanya Solar, gap besar antara harga jual dengan harga keekonomian juga terjadi pada produk Pertalite. Saat ini, harga BBM jenis tersebut masih dilego di angka Rp7.650 per liter, sedangkan harga pasarnya mencapai Rp17.200. "Sehingga untuk tiap liter Pertalite yang dibeli masyarakat, pemerintah mensubsidi Rp9.950 per liter," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI, Rabu (6/7).

Demikian juga untuk LPG berubsidi atau public service obligation (PSO) yang disalurkan Pertamina. Nicke mengatakan harganya juga belum pernah dinaikkan sejak 2007. "Jadi masih Rp4.250 per kg, di mana harga pasar adalah Rp15.698 per kg. Jadi, subsidi pemerintah adalah Rp11.448 per kg-nya," kata Nicke.

Pertamax naik tapi tetap subsidi

Nicke juga menjelaskan bahwa harga Pertamax yang sebelumnya telah dinaikkan ke Rp12.500 per liter masih jauh di bawah keekonomiannya. Bulan ini, kata dia, harga keekonomian BBM RON 92 tersebut telah mencapai level Rp17.950. Artinya, pemerintah masih memberikan subsidi Rp5.450 per liter untuk tiap liter Pertamax yang dibeli masyarakat.

"Kalau kita lihat kompetitor untuk RON 92 ini sudah menetapkan harga sekitar Rp17 ribu. Karena memang harga pasar ini adalah Rp17.950," jelasnya.

Kendati demikian, Nicke memahami bahwa keputusan menaikkan harga di level Rp12.500 sudah dilakukan dengan pertimbangan matang. Sebab, jika harga Pertamax dengan Pertalite terpaut terlalu jauh, dikhawatirkan konsumen akan ramai-ramai beralih ke Pertalite.

"Kalau Pertamax kita naikkan sebesar ini tentu shifting ke Pertalite akan terjadi dan menambah beban ke negara. Tentu kita pantau terus harga pasar dan kita koordinasi dengan pemerintah," katanya.

Pun demikian, Nicke menyatakan bahwa kenaikan harga yang disebabkan perang Rusia-Ukraina tersebut belum akan berakhir dalam waktu dekat. Hari ini saja, rata-rata harga minyak dunia sudah menyentuh US$139 per barel. Dengan kondisi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian, ia memprediksi harga minyak belum akan surut secara drastis hingga akhir tahun.

"Di akhir tahun pun belum bisa turun banyak. Kita prediksi di sekitar US$127 per barel untuk yang crude maupun produk. Jadi harga masih belum bisa turun banyak dan masih jauh di atas yang kita rencanakan di 2022," ujarnya

Karena itu Pertamina tengah membuat perencanaan yang akurat untuk menyeimbangkan produksi dan penjualan di sektor hulu maupun hilir. "Kami tidak menyampaikan bahwa kami kemudian menimbun stok sebanyak mungkin. Karena, dengan kondisi saat ini, tentu kita juga harus menyeimbangkan ketahanan energi nasional dengan kondisi korporasi. inilah yang coba kita lakukan," katanya.

Related Articles