Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 Peternak Mengadu ke DPR Soal Harga Telur Murah dan Pakan Mahal
Danang peternak ayam petelur di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.
  • Peternak telur mengadu ke Komisi IV DPR karena biaya pakan naik sejak April 2026, sementara harga telur di tingkat peternak berada jauh di bawah harga acuan pemerintah.

  • Harga pakan mencapai Rp8.155 per kilogram akibat kenaikan jagung, katul, dan bungkil kedelai; harga telur Rp19.200-Rp20.000 per kilogram memicu kerugian Rp5.000-7.000 per kilogram.

  • PPN meminta telur masuk program bantuan pangan, jaminan jagung 223.000 ton hingga Februari 2027, evaluasi tata niaga pakan, serta pembangunan pabrik pengolahan di daerah kelebihan pasokan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
April 2026

Kondisi biaya produksi dan hasil produksi yang tidak seimbang disebut mulai berlangsung. Harga telur rata-rata berada di kisaran Rp19.200-Rp20.000 per kilogram.

Juni

Harga telur di tingkat peternak sempat menyentuh Rp17.100 per kilogram.

Rabu (7/10)

Suardi menyampaikan keluhan PPN dalam RDPU bersama Komisi IV DPR RI.

Februari 2027

Peternak diperkirakan membutuhkan sekitar 223.000 ton jagung hingga periode ini.

kini

Harga bahan baku pakan dan biaya pakan disebut meningkat, sementara sebagian peternak kesulitan membeli pakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    PPN mengeluhkan biaya pakan yang naik dan harga telur di tingkat peternak yang berada di bawah harga acuan pemerintah.
  • Who?
    Perwakilan PPN Suardi menyampaikan keluhan tersebut bersama Komisi IV DPR RI.
  • Where?
    Keluhan disampaikan dalam RDPU bersama Komisi IV DPR RI.
  • When?
    Kondisi tersebut disebut berlangsung sejak April 2026 dan dibahas dalam RDPU pada Rabu (7/10).
  • Why?
    Tekanan terjadi karena harga bahan baku pakan meningkat, sedangkan harga telur di tingkat peternak rendah dan penyerapan pasar lemah.
  • How?
    PPN meminta program bantuan pangan, jaminan ketersediaan jagung, evaluasi tata niaga pakan, serta pembangunan pabrik pengolahan di daerah oversupply.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Peternak ayam bercerita kepada Komisi IV DPR bahwa makanan ayam menjadi mahal, tetapi telur dijual murah. Mereka rugi dan beberapa kandang tidak diisi lagi. Telur juga menumpuk karena kurang dibeli. PPN meminta bantuan pangan dan jagung dengan harga seimbang supaya peternak bisa terus bekerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penyampaian keluhan dalam RDPU membuat persoalan biaya pakan, harga telur, dan penyerapan produksi tercatat di hadapan Komisi IV DPR RI. PPN juga menyampaikan sejumlah kebutuhan dan usulan, termasuk bantuan pangan, ketersediaan jagung, evaluasi tata niaga, serta fasilitas pengolahan untuk daerah yang mengalami oversupply.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Perwakilan Pinsar Petelur Nasional (PPN), Suardi, mengeluhkan tekanan biaya produksi yang makin berat akibat kenaikan harga bahan baku pakan, sementara harga telur di tingkat peternak justru berada jauh di bawah harga acuan pemerintah.

Dia menyampaikan keluhan tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10). Ia mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sejak April 2026 dan membuat usaha peternak ayam petelur kian tertekan.

“Sejak April 2026 sampai dengan hari ini, biaya ongkos produksi dan hasil produksi sangat tidak balanced,” kata Suardi dalam RDPU tersebut yang disiarkan secara virtual.

Menurutnya, kenaikan biaya terutama dipicu harga jagung, bungkil kedelai, dan katul. Jagung yang menjadi sekitar 50 persen komposisi pakan kini rata-rata diterima peternak dengan harga hampir Rp8.000 per kilogram. Sementara itu, harga katul naik dari sekitar Rp3.500 menjadi Rp6.000 per kilogram.

Dengan komposisi pakan 50 persen jagung, 15 persen katul, dan 35 persen konsentrat, Suardi menyebut biaya pakan kini mencapai Rp8.155 per kilogram.

Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak masih jauh di bawah harga acuan Rp26.500 per kilogram berdasarkan Perbadan Nomor 6 Tahun 2024. Sejak April, harga telur rata-rata hanya Rp19.200-Rp20.000 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp17.100 per kilogram pada Juni.

“Para peternak ini mengalami kerugian Rp5.000 sampai Rp7.000 per kilogram setiap hari, dikalikan produksi,” ujarnya.

Tekanan tersebut membuat sebagian peternak tidak lagi mampu membeli pakan sehingga sejumlah kandang terpaksa dikosongkan. PPN juga menyebut telur menumpuk di sejumlah daerah karena lemahnya penyerapan pasar.

Karena itu, PPN meminta pemerintah memasukkan telur dalam program bantuan pangan guna membantu menyerap produksi peternak. Mereka juga meminta pemerintah menjamin ketersediaan jagung.

Suardi memperkirakan peternak membutuhkan sekitar 223.000 ton jagung hingga Februari 2027, terutama di tengah ancaman El Nino.

“Kami mohon sediakan jagung untuk kami dengan harga yang seimbang, sehingga kami bisa terus melanjutkan usaha beternak ayam untuk menghidupi keluarga,” katanya.

Selain itu, PPN meminta pemerintah mengevaluasi tata niaga bahan baku pakan, khususnya bungkil kedelai yang masih bergantung pada impor.

PPN juga berharap Danantara dapat memperkuat sisi hulu dan hilir perunggasan tanpa mengambil alih budidaya dari peternak rakyat. Untuk daerah yang mengalami oversupply seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung, mereka mengusulkan pembangunan pabrik tepung telur dan tepung daging agar produksi dapat terserap.

Curated For You

Editorial Team

Related Article