Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Ilustrasi Industri manufaktur yang menggunakan AI (pexels.com/Hyundai Motor Group)
Ilustrasi Industri manufaktur yang menggunakan AI (pexels.com/Hyundai Motor Group)

Intinya sih...

  • Kawasan industri Jakarta Raya mengalami pengetatan pasokan.

  • Penyerapan lahan industri melampaui rata-rata tahunan pada 2020-2023.

  • Harga lahan industri diprediksi akan mengalami tren kenaikan pada awal 2026.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pasar kawasan industri di kawasan Jakarta Raya tengah memasuki fase pengetatan pasokan. Meski nihil peluncuran inventori baru pada kuartal penutup 2025, tingkat penyerapan lahan justru menunjukkan ketahanan signifikan.

Data Colliers Indonesia menunjukkan total transaksi lahan sepanjang 2025 mencapai 311,85 hektare. Angka ini melampaui rata-rata tahunan periode 2020–2023 yang hanya 213 hektare, sekaligus menjadi sinyalemen bahwa pasar telah kembali ke tren ekspansi yang sehat berkat sokongan investasi asing pada sektor manufaktur.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menggarisbawahi fundamental pasar yang saat ini masih berada dalam posisi sangat kokoh.

“Pasar lahan industri Greater Jakarta terus menunjukkan fundamental yang kuat. Penyerapan lahan telah melampaui rata-rata tahunan 2020–2023, bahkan tanpa adanya peluncuran pasokan baru pada tahun ini,” ujarnya seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (19/2).

Berdasarkan laporan Colliers Quarterly Property Market Q4-2025, wilayah Bekasi sebagai pusat industri utama kini hampir mencapai kapasitas efektifnya. Dengan sisa lahan siap bangun yang hanya berkisar 100 hektare, ketersediaan lahan di Bekasi kian terbatas.

Kondisi ini secara otomatis mendorong pergeseran permintaan ke koridor industri baru seperti Karawang, Purwakarta, hingga Subang yang menawarkan ruang pengembangan lebih luas.

Sektor manufaktur tetap menjadi kontributor utama penyerapan lahan, khususnya dari industri otomotif, tekstil, alat berat, dan barang konsumsi.

Selain manufaktur konvensional, fasilitas pangkalan data mengalami lonjakan permintaan. Kawasan GIIC (Greenland International Industrial Center) kini muncul sebagai magnet utama investasi ekonomi digital di kawasan Jabodetabek.

Dari sisi valuasi, pasar menunjukkan dinamika menarik yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar.

Pada kuartal IV-2025, harga rata-rata lahan industri US$177,84 per meter persegi, alias sedikit di bawah proyeksi rata-rata tahunan 2025 yang sebesar US$187,33 per meter persegi.

Penurunan tipis dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) ini bukan disebabkan oleh pelemahan permintaan, melainkan dampak depresiasi rupiah terhadap dolar AS.

Hal ini mengingat mayoritas pengembang mempublikasikan harga lahan mereka dalam satuan dolar AS. Namun, Ferry memprediksi tren harga akan kembali menanjak seiring memasuki tahun baru.

“Berdasarkan permintaan yang terus kuat dan pasokan yang terbatas, kami memproyeksikan harga lahan industri akan mengalami tren kenaikan pada awal 2026 seiring meningkatnya kompetisi terhadap lahan siap bangun,” kata Ferry.

Memasuki 2026, pasar industri Jakarta Raya diperkirakan tetap solid dengan aliran investasi asing yang konsisten. Namun, keterbatasan lahan siap bangun di kawasan mapan seperti Bekasi dan Karawang akan menjadi tantangan tersendiri bagi investor skala besar.

Pada sisi suplai, kelangkaan diperkirakan terus berlanjut karena peluncuran cadangan lahan baru kemungkinan besar berlangsung secara bertahap. Pasalnya, kondisi ini sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kelancaran perizinan.

Dengan makin intensnya kompetisi, harga lahan industri dalam mata uang rupiah diproyeksikan terus naik, sehingga mempersempit selisih antara harga proyeksi dan harga penawaran di pasar sepanjang tahun ini. 

Editorial Team