Jakarta, FORTUNE — Krisis moneter Iran semakin menekan perekonomian nasional setelah nilai tukar rial anjlok tajam dan inflasi melonjak, memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai wilayah sejak akhir Desember 2025.
Pelemahan mata uang yang ekstrem telah menggerus daya beli masyarakat, meningkatkan biaya hidup, dan memperburuk sentimen terhadap pemerintah di tengah tekanan geopolitik yang berlanjut.
Tekanan ekonomi ini tidak berdiri sendiri. Di saat pemerintah menghadapi keterbatasan fiskal akibat sanksi internasional dan isolasi finansial, ketidakstabilan nilai tukar mempercepat lonjakan harga barang pokok. Kondisi tersebut menjadi pemicu awal eskalasi protes yang kemudian berkembang menjadi krisis keamanan dan politik berskala nasional.
