Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan penuh terhadap dua proyek strategis nasional yang akan mengakselerasi modernisasi Indonesia: pengembangan government technology (GovTech Indonesia) dan inisiatif pembangunan bank gen (gen bank) untuk menjaga kedaulatan plasma nutfah.
Dukungan tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, usai bertemu dengan Prabowo di Jakarta, Rabu (27/8). Menurut Luhut, kedua inisiatif ini merupakan pilar penting dalam visi pemerintahan ke depan.
“Presiden sangat senang bahwa progres dari pada government technology itu bisa berjalan dengan baik. Kita sudah kick off kemarin dan Presiden mendukung semua usulan-usulan atau penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh tim,” kata Luhut, seperti disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Fokus pertama adalah percepatan implementasi GovTech Indonesia. Luhut melaporkan bahwa sebuah proyek percontohan (pilot project) akan segera dijalankan di Banyuwangi pada akhir September 2025, sebelum sistem ini diluncurkan secara nasional pada 2026.
Implementasi GovTech diharapkan dapat merevolusi digitalisasi layanan pemerintah. Salah satu contoh utamanya adalah penyaluran bantuan sosial (bansos) yang akan jauh lebih akurat.
Luhut menjelaskan, teknologi seperti pengenalan wajah (face recognition) dan biometrik akan digunakan untuk meminimalkan kesalahan data. Hal ini akan memastikan distribusi bantuan pemerintah lebih tepat sasaran kepada masyarakat yang berhak.
Selain GovTech, pertemuan tersebut juga membahas inisiatif strategis pada bidang bioteknologi, yaitu pembangunan Gen Bank Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan plasma nutfah nasional.
Direktur Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura Indonesia, Prof. Sri Fatmawati, yang turut hadir dalam pertemuan, menekankan urgensi proyek ini.
“Salah satu yang harus kita jaga sebagai negara mega-biodiversitas, kita harus memiliki gen bank. Itu yang kami sampaikan kepada Bapak Presiden, dan beliau sangat mendukung untuk menjaga plasma nutfah Indonesia,” kata Sri.
Sebagai contoh konkret, ia menyoroti riset yang sedang berjalan untuk plasma nutfah kemenyan. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi objek ekspedisi riset yang saat ini dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Sumatra.
“Memang nilai ekonomi [kemenyan] cukup bagus dan juga kita wajib melindungi konservasi plasma nutfah kemenyan yang ada,” ujarnya.