Jakarta, FORTUNE - Industri game di Indonesia menunjukkan skala ekonomi yang besar. Nilai pasar game nasional diperkirakan mencapai US$2,5 miliar atau sekitar Rp41,94 triliun dengan asumsi kurs Rp16.779 per dolar AS. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar game terbesar di tingkat global.
Merujuk Agate Whitepaper 2025, Indonesia berada di posisi ketiga dunia berdasarkan jumlah unduhan gim. Total pemain game di Tanah Air tercatat melampaui 192 juta orang, setara dengan sekitar 43 persen dari keseluruhan gamer di Asia Tenggara. Laporan yang sama juga mencatat Indonesia sebagai pasar dengan laju pertumbuhan tercepat secara global. Sepanjang 2022, jumlah unduhan game mencapai 3,37 miliar kali dengan nilai transaksi sekitar US$2 miliar atau setara Rp33,55 triliun. Tren pertumbuhan tersebut berlanjut hingga 2025, didorong oleh meningkatnya penetrasi ponsel pintar dan kualitas konektivitas digital.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai industri game memiliki potensi besar sebagai sumber kekayaan intelektual (intellectual property/IP) dengan rantai nilai ekonomi yang panjang. Menurutnya, potensi monetisasi game tidak terbatas pada penjualan judul atau layanan isi ulang, tetapi juga menciptakan efek turunan ke berbagai sektor lain.
“Dalam konteks perdagangan, game merupakan komoditas kreatif yang mampu menggerakkan berbagai subsektor ekonomi, sekaligus membuka peluang ekspor berbasis kekayaan intelektual Indonesia,” ujar Roro dalam keterangan resmi, Senin (26/1).
Meski memiliki nilai pasar yang besar, kontribusi pengembang lokal terhadap total transaksi masih relatif kecil. Data Agate Whitepaper menunjukkan pangsa pasar studio game nasional baru berada di kisaran 0,5 persen, sementara sebagian besar nilai ekonomi industri masih dikuasai oleh pengembang asing.
Roro menilai hambatan utama pengembang lokal tidak terletak pada aspek kualitas atau kreativitas. Tantangan yang lebih krusial berkaitan dengan akses ke etalase digital, tingkat visibilitas produk, distribusi, serta model monetisasi yang sesuai dengan perilaku konsumen domestik.
Situasi tersebut membuat tingginya minat gamer di dalam negeri belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai ekonomi optimal bagi pengembang lokal, meskipun basis pemain terus bertambah dari tahun ke tahun.
Kementerian Perdagangan menyatakan komitmennya untuk memperkuat ekosistem industri game nasional, terutama melalui peningkatan akses pasar. Sejumlah langkah ditempuh, antara lain melalui kampanye Ayo Hari Game Indonesia (Hargai) pada 2024, penyelenggaraan Indonesian Games Week, serta partisipasi dalam Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2025.
Selain pasar domestik, dukungan juga diarahkan pada perluasan akses ke pasar internasional melalui perwakilan perdagangan RI di berbagai negara. Pemerintah turut mendorong pembentukan pasar khusus (captive market) serta sinergi promosi lintas kementerian dan platform digital.
“Ke depan, tugas kita bersama bukan hanya menciptakan game yang berkualitas, tetapi memastikan potensi pasar yang besar ini benar-benar terkonversi menjadi nilai ekonomi bagi pengembang game nasional,” ujar Roro.
Upaya penguatan ekosistem tersebut juga tercermin dalam penyelenggaraan LapakGaming Battle Arena Series 3 di Jakarta, Sabtu (24/1). Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan antara pengembang, platform, dan komunitas gamer guna meningkatkan eksposur produk lokal.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam menilai kegiatan tersebut mencerminkan dinamika ekosistem game nasional yang terus berkembang. Sementara itu, Agate menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, pengembang, dan investor untuk memperkuat daya saing industri game Indonesia.
Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai krusial untuk menjembatani besarnya potensi pasar dengan penguatan kapasitas pengembang lokal, termasuk dari sisi pendanaan, perlindungan hak cipta, serta pengembangan talenta industri game nasional.
