Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Pasar Energi Global Masih Tenang, Meski Lonjakan Harga Membayangi
Kapal Perang AS melintas di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Petty Officer 2nd Class Matthew Riggs/U.S. Navy)

Jakarta, FORTUNE - Pasar energi global menunjukkan reaksi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu konflik geopolitik. Meski situasi di lapangan memanas dan Selat Hormuz terganggu, harga minyak mentah hanya naik sekitar 6 persen pada 2 Maret. Melansir Fortune.com, para analis menilai reaksi pasar energi masih terbatas dan belum bergejolak, meskipun demikian lonjakan harga bisa jauh lebih tinggi jika arus minyak dan gas belum kembali normal pada akhir pekan ini atau tidak lama setelahnya.

“Selat Hormuz memang ditutup, namun harga hanya naik sedikit,” ujar analis perminyakan Dan Pickering, yang juga pendiri firma konsultasi dan riset Pickering Energy Partners.

“Reaksi harga minyak memberi tahu kita bahwa, sejauh ini, situasinya masih terkendali. Ekspektasinya adalah AS akan melakukan sesuatu untuk membuka, dan menjaga tetap terbuka, selat tersebut agar minyak bisa mengalir," katanya, menambahkan.

Selat sepanjang 104 mil itu merupakan titik sempit utama yang memisahkan Teluk Persia, dengan aliran hampir 20 juta barel minyak per hari dari Samudra Hindia dan pasar energi global. Hampir 20 persen ekspor minyak dan gas alam dunia melewati jalur ini setiap hari. Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada perairan tersebut untuk ekspor mereka.

Meskipun ekspor minyak dan gas belum secara resmi diblokir, sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan. Selain itu, semakin banyak perusahaan asuransi pihak ketiga yang menolak memberikan perlindungan bagi kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Beberapa kilang di Arab Saudi dan Kuwait mengalami kerusakan ringan, sementara Qatar, eksportir gas alam terbesar kedua di dunia untuk sementara menghentikan sebagian besar produksi ekspornya.

Menurut Pickering, pemerintah AS kemungkinan perlu memberikan jaminan keamanan tertentu untuk mengatasi keengganan perusahaan asuransi dalam menanggung risiko kapal tanker minyak. “Jika itu terjadi, tanker bergerak. Sampai itu terjadi, tanker menunggu,” katanya. Di sisi lain, Jaime Brito, direktur eksekutif untuk penyulingan dan produk minyak di firma riset harga energi OPIS, menyebut belum ada aktivitas produksi minyak dan gas yang secara langsung menjadi target Iran atau proksinya sejauh ini. Ia mencatat reaksi pasar yang “relatif jinak”.

“Sangat menarik melihat harga pasar tidak sepenuhnya bereaksi secara emosional,” kata Brito. “Tampaknya mereka secara realistis menunggu untuk melihat apakah ada konfirmasi lebih spesifik tentang serangan terhadap aset energi sebelum bereaksi lebih jauh.”

Kenaikan US$4 per barel pada 2 Maret mungkin terlihat kecil, tetapi harga sebenarnya telah merespons ketegangan kawasan bahkan sebelum serangan resmi dilakukan. Harga patokan minyak mentah AS naik dari sekitar US$67 menjadi US$71 per barel pada 2 Maret. Pada awal tahun, harga berada di level US$57 per barel dan terus meningkat seiring eskalasi ketegangan AS-Iran.

Kilang minyak raksasa energi ditutup

Selain penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga energi membayangi seiring ditutupnya kilang minyak milik raksasa energi energi dunia, Saudi Aramco. Melansir Bloomberg, Saudi Aramco, resmi menghentikan operasi kilang minyak Ras Tanura yang memiliki kapasitas produksi 550.000 barel per hari (bpd). Penghentian ini dilakukan sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan fasilitas strategis di pesisir Teluk Persia, memunculkan kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa penutupan sementara tersebut merupakan langkah antisipatif untuk memungkinkan evaluasi menyeluruh atas potensi kerusakan. Mengutip Saudi Press Agency, serangan drone berhasil dicegat, namun serpihan yang jatuh memicu kebakaran “terbatas” yang diklaim telah segera dikendalikan.

Keputusan Aramco menghentikan aktivitas salah satu kompleks penyulingan terbesar di dunia itu langsung mengguncang pasar komoditas. Ras Tanura dikenal sebagai pemasok utama solar (diesel) ke Eropa. Penutupan fasilitas tersebut mendorong lonjakan kontrak berjangka gasoil lebih dari 20 persen dalam seharim kenaikan harian terbesar sejak Maret 2022. Sementara itu, harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 9 persen, mendekati level US$79 per barel di perdagangan London. Hingga kini, manajemen Aramco belum menyampaikan pernyataan resmi terkait perkiraan lamanya penghentian operasional tersebut.

Menilik dari awal tahun, harga telah melonjak sekitar 25 persen. Namun sebagai konteks, tahun ini dibuka dengan level harga terendah sejak pandemi akibat kelebihan pasokan global dan relatif minimnya gangguan geopolitik. Konsumen kini mengamati potensi dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar di SPBU. Rata-rata nasional harga bensin reguler tanpa timbal sempat menyentuh level terendah dalam beberapa tahun di US$2,73 per galon pada awal tahun. Kini harga telah naik ke US$2,96 dan terus meningkat, sehingga diperkirakan akan menembus ambang US$3 per galon dalam waktu dekat, menurut Patrick De Haan, kepala analisis perminyakan di GasBuddy.

“Dalam sepekan ke depan, harga bensin kemungkinan akan menghadapi tekanan kenaikan yang lebih tinggi seiring tren musiman berlanjut dan pasar menavigasi lanskap geopolitik yang terus berkembang ini, dengan rata-rata nasional siap mencapai angka US$3 per galon untuk pertama kalinya tahun ini,” ujar De Haan.

Dampak terhadap harga gas alam di AS relatif terbatas, mengingat negara tersebut merupakan produsen gas terbesar di dunia. Namun Eropa dan Asia sangat bergantung pada pasokan dari Qatar dan negara lain, terutama di wilayah yang masih mengalami musim dingin. Harga gas alam di Eropa melonjak hampir 50 persen pada 2 Maret. Risiko tetap ada bahwa Iran, dalam kondisi terdesak, dapat melancarkan serangan lebih agresif terhadap kapal tanker minyak atau aset energi milik Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Para analis mengingatkan, selama infrastruktur energi tetap menjadi target dalam konflik ini, gejolak harga di pasar global berpotensi bertahan pada level tinggi dalam jangka pendek.

Editorial Team