Jakarta, FORTUNE - Pasar energi global menunjukkan reaksi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang memicu konflik geopolitik. Meski situasi di lapangan memanas dan Selat Hormuz terganggu, harga minyak mentah hanya naik sekitar 6 persen pada 2 Maret. Melansir Fortune.com, para analis menilai reaksi pasar energi masih terbatas dan belum bergejolak, meskipun demikian lonjakan harga bisa jauh lebih tinggi jika arus minyak dan gas belum kembali normal pada akhir pekan ini atau tidak lama setelahnya.
“Selat Hormuz memang ditutup, namun harga hanya naik sedikit,” ujar analis perminyakan Dan Pickering, yang juga pendiri firma konsultasi dan riset Pickering Energy Partners.
“Reaksi harga minyak memberi tahu kita bahwa, sejauh ini, situasinya masih terkendali. Ekspektasinya adalah AS akan melakukan sesuatu untuk membuka, dan menjaga tetap terbuka, selat tersebut agar minyak bisa mengalir," katanya, menambahkan.
Selat sepanjang 104 mil itu merupakan titik sempit utama yang memisahkan Teluk Persia, dengan aliran hampir 20 juta barel minyak per hari dari Samudra Hindia dan pasar energi global. Hampir 20 persen ekspor minyak dan gas alam dunia melewati jalur ini setiap hari. Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada perairan tersebut untuk ekspor mereka.
Meskipun ekspor minyak dan gas belum secara resmi diblokir, sejumlah kapal tanker dilaporkan mengalami kerusakan. Selain itu, semakin banyak perusahaan asuransi pihak ketiga yang menolak memberikan perlindungan bagi kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Beberapa kilang di Arab Saudi dan Kuwait mengalami kerusakan ringan, sementara Qatar, eksportir gas alam terbesar kedua di dunia untuk sementara menghentikan sebagian besar produksi ekspornya.
Menurut Pickering, pemerintah AS kemungkinan perlu memberikan jaminan keamanan tertentu untuk mengatasi keengganan perusahaan asuransi dalam menanggung risiko kapal tanker minyak. “Jika itu terjadi, tanker bergerak. Sampai itu terjadi, tanker menunggu,” katanya. Di sisi lain, Jaime Brito, direktur eksekutif untuk penyulingan dan produk minyak di firma riset harga energi OPIS, menyebut belum ada aktivitas produksi minyak dan gas yang secara langsung menjadi target Iran atau proksinya sejauh ini. Ia mencatat reaksi pasar yang “relatif jinak”.
“Sangat menarik melihat harga pasar tidak sepenuhnya bereaksi secara emosional,” kata Brito. “Tampaknya mereka secara realistis menunggu untuk melihat apakah ada konfirmasi lebih spesifik tentang serangan terhadap aset energi sebelum bereaksi lebih jauh.”
Kenaikan US$4 per barel pada 2 Maret mungkin terlihat kecil, tetapi harga sebenarnya telah merespons ketegangan kawasan bahkan sebelum serangan resmi dilakukan. Harga patokan minyak mentah AS naik dari sekitar US$67 menjadi US$71 per barel pada 2 Maret. Pada awal tahun, harga berada di level US$57 per barel dan terus meningkat seiring eskalasi ketegangan AS-Iran.
