Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pemerintah Bidik Penurunan Biaya Logistik Nasional hingga 8 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dok Humas Ekon
  • Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional turun dari 14,29 persen menjadi 12,5 persen hingga 8 persen terhadap PDB.

  • Perpres 41/2026 memperkuat konektivitas, digitalisasi logistik, serta daya saing SDM dan penyedia jasa logistik.

  • Penguatan NLE, dry port, transportasi multimoda, dan pembiayaan KIPK menjadi langkah operasional yang didorong pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat ini

Biaya logistik nasional masih berada dalam kisaran 14,29 persen terhadap PDB.

Jumat (16/10)

Menko Airlangga menyampaikan bahwa Presiden menugaskan Kemenko Perekonomian untuk mengoordinasikan percepatan transformasi logistik nasional melalui Perpres Nomor 41 Tahun 2026.

Usai Perpres 41/2026 diundangkan

Beberapa langkah operasional telah dan terus dilakukan untuk memastikan implementasi memberikan dampak nyata bagi efisiensi logistik nasional.

beberapa tahun mendatang

Pemerintah membidik penurunan biaya logistik nasional menjadi 12,5 persen hingga mencapai 8 persen terhadap PDB.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional turun menjadi 12,5 persen hingga 8 persen terhadap PDB.
  • Who?
    Pemerintah Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
  • Where?
    Dalam ekosistem logistik nasional, termasuk Kawasan Industri Terpadu Batang.
  • When?
    Target dicapai dalam beberapa tahun mendatang; saat ini biaya logistik berada di kisaran 14,29 persen terhadap PDB.
  • Why?
    Untuk mengurangi biaya logistik, meningkatkan efisiensi sistem logistik, dan memperkuat daya saing ekonomi.
  • How?
    Melalui Perpres 41/2026, penguatan infrastruktur, digitalisasi, transportasi multimoda, dry port, serta dukungan KIPK untuk peremajaan truk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemerintah ingin biaya mengirim barang menjadi lebih murah. Airlangga Hartarto diberi tugas untuk memperbaiki sistem logistik dengan aturan baru. Pemerintah akan memakai teknologi, dry port, kereta, kapal, dan membantu peremajaan truk. Sekarang, aturan itu mulai dijalankan supaya pengiriman barang lebih cepat dan efisien.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penguatan ekosistem logistik melalui Perpres 41/2026 menyediakan arah kebijakan untuk memperbaiki konektivitas, layanan digital, dan kualitas penyedia jasa. Langkah seperti pengembangan dry port, transportasi multimoda, serta pembiayaan peremajaan truk dapat mendukung efisiensi distribusi dan membantu produk ekspor lebih berdaya saing serta produk domestik lebih terjangkau.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah Indonesia membidik penurunan biaya logistik nasional menjadi 12,5 persen hingga mencapai 8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, biaya logistik nasional masih berada dalam kisaran 14,29 persen terhadap PDB.

Untuk itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendapat tugas untuk memperkuat ekosistem logistik nasional untuk mengurangi biaya logistik dan meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2026 tentang Penguatan Logistik Nasional.

“Penguatan ekosistem logistik nasional menjadi kunci untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing ekonomi. Untuk itu, Presiden menugaskan saya melalui Kemenko Perekonomian untuk mengoordinasikan percepatan transformasi logistik nasional melalui Perpres Nomor 41 Tahun 2026,” ujar Menko Airlangga dalam keterangannya, dikutip Jumat (16/10).

Perpres 41/2026 dirancang menjadi instrumen kebijakan strategis dalam memperkuat ekosistem logistik nasional untuk memangkas biaya logistik nasional melalui tiga strategi utama yaitu penguatan infrastruktur konektivitas, layanan backbone, dan sarana penunjang logistik, penguatan integrasi dan digitalisasi logistik, serta peningkatan daya saing SDM dan penyedia jasa logistik.

Usai Perpres 41/2026 diundangkan, beberapa langkah operasional telah dan terus dilakukan untuk memastikan implementasi memberikan dampak nyata bagi efisiensi logistik nasional.

Menko Airlangga menjelaskan platform NLE yang selama ini telah memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan biaya logistik hingga 17 persen dan pemangkasan waktu layanan hingga 73% akan diperkuat melalui digitalisasi end-to-end, yang sebelumnya NLE lebih berfokus pada layanan perizinan Business to Government (B2G) dan Government to Government (G2G).

Lebih lanjut, Pemerintah mendorong pengembangan dry port, termasuk di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), untuk mengurangi beban truk di jalan raya dan mendekatkan layanan kepabeanan ke kawasan industri.

Integrasi layanan angkutan jalan, kereta api, dan transportasi laut (multimodal transport) menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada angkutan jalan.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah mendorong pemanfaatan Kredit Industri Padat Karya (KIPK) untuk peremajaan armada truk yang semakin tua. sektor transportasi dan penyimpanan dapat mengakses program KIPK, sehingga pelaku usaha angkutan moda truk memperoleh dukungan pembiayaan yang terjangkau untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas layanan.

“Melalui sinergi dan koordinasi lintas sektor dalam melaksanakan rencana aksi pada Perpres ini, kami optimis biaya logistik dapat ditekan sampai 8 persen. Dengan sistem logistik yang lebih efisien dan terintegrasi, produk ekspor kita akan semakin berdaya saing, dan produk di pasar domestik akan semakin terjangkau bagi masyarakat,” kata Menko Airlangga.

Curated For You

Editorial Team

Related Article