Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PLN: 99 Persen Listrik Data Center Masih Terpusat di Jawa-Bali
Tampak udara salah satu fasilitas data center di Cikarang, Jawa Barat. Pertumbuhan data center yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital turut meningkatkan kebutuhan listrik dalam skala besar. (Dok. PLN)
  • Sebanyak 99 persen kapasitas listrik tersambung untuk pangkalan data di Indonesia, yakni 2.038 MVA, masih terkonsentrasi pada sistem Jawa-Madura-Bali.

  • PLN melayani 159 pelanggan data center dengan konsumsi 2.378 GWh; pembangunan kini mulai meluas dari Jawa Barat ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

  • PLN mendorong perencanaan dan koordinasi sejak awal agar pasokan data center tetap andal, terjangkau, stabil, serta mendukung kebutuhan energi bersih dan pertumbuhan digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - PT PLN (Persero) melaporkan sekitar 99 persen dari total kapasitas tersambung listrik untuk industri pusat data (data center) di Indonesia yang sebesar 2.038 megavolt ampere (MVA) masih terkonsentrasi pada sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali.

Guna mengantisipasi pesatnya ekspansi perekonomian digital, komputasi awan (cloud computing), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mulai meluas ke luar Jawa, PLN mendorong pendekatan integratif dan koordinasi sejak tahap awal bersama para pengembang data center.

Executive Vice President Penjualan dan Pelayanan Pelanggan Enterprise PLN, Dini Sulistyawati, menyatakan PLN melayani 159 pelanggan pangkalan data dengan total konsumsi energi 2.378 gigawatt hour (GWh). Meski Jawa Barat masih menjadi salah satu klaster pusat data terbesar, titik pembangunan data center kini mulai merambah ke wilayah lain, "termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi,” kata Dini dalam keterangannya, dikutip Senin (28/9).

Besarnya konsumsi energi tersebut menunjukkan kian pentingnya kesiapan infrastruktur listrik. Berbeda dari pelanggan umum, industri data center memiliki karakteristik khusus yang membutuhkan daya besar, tingkat keandalan dan kualitas pasokan yang tinggi, serta kecenderungan peningkatan kebutuhan akan energi bersih.

“Kami percaya ini baru permulaan. Kecerdasan buatan, cloud computing, layanan digital, serta pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan terus menciptakan kebutuhan listrik baru dalam skala yang sangat signifikan,” ujar Dini.

Menyikapi tren tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan harus dirancang sejak awal. Perencanaan yang lebih dini sangat diperlukan agar pertumbuhan permintaan energi terantisipasi secara presisi dan investasi digital berjalan secara berkelanjutan.

“Meningkatnya kebutuhan listrik dalam ekosistem data center menunjukkan makin pentingnya infrastruktur energi bagi pertumbuhan ekonomi digital. PLN ingin pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dapat berjalan seiring dengan perkembangan sektor digital,” ujar Darmawan.

PLN masih tertantang dalam urusan penambahan kapasitas pasokan. Selain itu juga, perusahaan ini mesti menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kapasitas, keandalan sistem, keterjangkauan harga, serta stabilitas jaringan dalam jangka panjang.

Menurut Dini, pengembangan infrastruktur energi secara terintegrasi sangat diperlukan, terutama ketika penyerapan listrik data center mulai menyebar ke berbagai kawasan di luar Jawa.

“Komitmen lebih awal dan koordinasi lebih erat dari kedua belah pihak didukung oleh proyeksi permintaan yang lebih jelas, jadwal energisasi yang realistis, kecepatan pengembangan kapasitas yang tepat, serta kerja sama yang lebih kuat antara PLN, pelanggan, dan pemerintah,” ujarnya. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article