Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
antarafoto-rakornas-pemerintah-pusat-dan-pemda-1770017859.jpg
Presiden Prabowo Subianto (atas, kanan) menyampaikan taklimat dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Intinya sih...

  • Presiden Prabowo Subianto mengingatkan risiko sikap politik luar negeri Indonesia yang nonblok, serta bebas dan aktif.

  • Dia menekankan Indonesia harus siap menghadapi ancaman global tanpa bantuan negara lain.

  • Dalam situasi global yang rapuh, dia menilai pentingnya memperkuat kemampuan sendiri dan tidak bergantung pada aliansi militer.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto mengingatkan seluruh jajaran pemerintah mengenai konsekuensi serius dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, serta posisinya yang netral (nonblok). Peringatan tersebut ia sampaikan dalam taklimatnya pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2).

Prabowo menjelaskan bahwa sejak era Presiden Soekarno, Indonesia memilih berada di luar blok-blok kekuatan besar dunia yang terpecah oleh perang ideologi—antara blok komunis dan blok anti-komunis.

Sikap nonblok tersebut masih menjadi garis politik luar negeri Indonesia hingga saat ini, dan menurut Prabowo keputusan itu harus dipahami dengan segala risiko yang melekat.

“Kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri.  Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita. Percaya sama saya, nobody is going to help us,” ujarnya seperti dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (2/2).

Prabowo mengatakan kondisi dunia saat ini tengah berada dalam ketidakpastian ekstrem. Perang Ukraina-Rusia dan konflik Israel-Palestina di Gaza telah menunjukkan betapa cepat dinamika global dapat berpengaruh pada Indonesia. Ia bahkan mengungkapkan bahwa para pemimpin dunia yang ditemuinya dalam pertemuan di Davos, Swiss, saat World Economic Forum (WEF) mengkhawatirkan potensi pecahnya Perang Dunia III.

Menurutnya, jika perang nuklir terjadi, negara-negara yang tidak terlibat pun akan terkena dampaknya—mulai dari partikel radioaktif, kerusakan ekosistem laut, hingga risiko nuclear winter yang bisa berlangsung puluhan tahun.

“Ada simulasi, kalau terjadi Perang Dunia III nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena,” ujarnya.

Dalam situasi global yang makin rapuh tersebut, Prabowo menilai Indonesia harus memperkuat kemampuan sendiri, mengingat tidak ada aliansi militer yang menjadi penopang jika negara lain menyerang. Ia mengutip pesan Soekarno dan Jenderal Sudirman tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri serta mengandalkan kekuatan nasional.

Dia mengingatkan bahwa dunia bekerja berdasarkan realitas, bukan idealisme.

“Yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki. Yang lemah akan menderita. Itu yang kita lihat hari ini,” katanya.

Sebagai presiden dan pemegang mandat rakyat, Prabowo menegaskan tugas utamanya adalah menjaga keselamatan bangsa, termasuk memastikan Indonesia selalu siap menghadapi ancaman apa pun meski tidak berniat memulai konflik.

“Karena kita tidak mau perang, [tapi] kita harus siap untuk perang,” ujarnya.

 

Editorial Team