Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Videoshot_20260203_164140.jpg
Menjemur Genteng (inin nastain/IDN Times)

Intinya sih...

  • Pemerintah dorong genting tanah liat sebagai material atap untuk industri bahan bangunan.

  • Industri genting siap ekspansi kapasitas produksi dalam waktu relatif cepat.

  • Kebutuhan utama: pasokan gas dan ketersediaan clay untuk memastikan keberhasilan program gentengisasi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Dorongan pemerintah mengutamakan genting tanah liat sebagai material atap membuka peluang baru bagi industri bahan bangunan.

Pelaku usaha menilai kebijakan gentengisasi akan memicu peningkatan kapasitas produksi dalam waktu relatif cepat, seiring kebutuhan pasar yang diperkirakan melonjak.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) terpilih 2026–2029, Edy Suyanto, mengatakan industri genting yang berada di bawah Asaki saat ini telah beroperasi mendekati batas maksimal.

Dari tiga perusahaan yang tergabung, total kapasitas produksi mencapai 85 juta unit per tahun, dengan tingkat utilisasi yang sudah di atas 90 persen.

“Ini sangat positif dan memberi optimisme baru. Setelah arahan gentengisasi, kami siap melakukan ekspansi dan menyerap tenaga kerja baru,” kata Edy di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (3/2).

Menurut Edy, pembangunan pabrik baru dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat jika kepastian pasar dan dukungan energi tersedia. Estimasi waktu ekspansi berkisar 9–12 bulan sejak keputusan investasi diambil.

“Begitu program ini bergulir, industri genteng harus ekspansi. Land bank sudah ada, tinggal memperluas,” katanya.

Namun, ada dua kebutuhan utama yang harus dipastikan pemerintah: pasokan gas dan ketersediaan clay. Industri genting saat ini bergantung sepenuhnya pada gas sebagai bahan bakar tungku pembakaran.

“Secara pasar, teknologi, SDM, dan permodalan kami siap. Tantangannya ada di dua hal itu,” ujarnya.

Edy menyebut peluang pembangunan pabrik di luar Jawa cukup besar, asalkan pasokqn energi tersedia dan terjamin. Saat ini, fasilitas produksi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa—dua di Jawa Barat dan satu di Jawa Timur.

“Di luar Jawa sangat memungkinkan selama ada kepastian suplai gas,” katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan program gentengisasi merupakan peluang besar bagi industri genting nasional memperluas kapasitas produksi. Tingginya utilisasi menunjukkan kesiapan industri untuk bergerak lebih agresif mengikuti arah kebijakan pemerintah.

“Teman-teman Asaki sudah 90 persen utilisasinya. Dengan program gentengisasi, masih bisa ekspansi. Tidak ada pilihan lain,” ujarnya.

Agus menilai penggunaan genting tanah liat memiliki banyak keunggulan—mulai dari kenyamanan, ketahanan, hingga dampak lingkungan lebih baik dibandingkan dengan material atap lainnya. Keunggulan inilah yang menjadi dasar pemerintah mendorong gerakan gentengisasi secara berkelanjutan.

“Ini peluang yang luar biasa bagi Asaki,” katanya.

Sebagai konteks, Presiden Prabowo Subianto mencetuskan program gentengisasi dalam Taklimat Presiden pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026.

Program tersebut bertujuan mengganti atap seng dengan genting karena dinilai lebih nyaman dan mempunyai tampilan lebih menarik.

Editorial Team