Jakarta, FORTUNE - Pemerintah optimistis arus investasi ke Indonesia tetap terjaga pada 2026, meski perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan.
Gejolak geopolitik yang berlanjut sejak 2025 diproyeksikan belum sepenuhnya mereda. Namun, Indonesia dinilai memiliki fondasi kuat untuk tetap menjadi tujuan utama penanaman modal di kawasan.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Nurul Ichwan, menyatakan situasi global penuh ketidakpastian justru menegaskan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok dunia.
Ia mengingatkan, saat pandemi Covid-19 melanda, Indonesia sempat menjadi anomali di tengah banyak negara yang perekonomiannya terkontraksi dalam waktu lama.
“Indonesia [saat itu] memang sempat terkurung, tetapi bangkitnya cepat,” kata dia di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (9/1).
Menurut Nurul, ketahanan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari kekuatan fundamental yang tidak dimiliki banyak negara lain. Indonesia memiliki sumber daya alam strategis yang terus dibutuhkan dunia, mulai dari batu bara, nikel, gas, bauksit, hingga minyak bumi.
“Memang itu bukan duit, tetapi global membutuhkan suplai itu dari Indonesia. Kita punya itu,” katanya.
Ia menilai, dengan kondisi tersebut, Indonesia hampir tidak mungkin terlepas dari peta rantai pasok dunia. Dengan begitu, banyak negara sulit menghindar untuk bertransaksi dengan Indonesia.
Selain kekuatan sumber daya alam, Nurul menekankan besarnya pasar domestik sebagai daya tarik utama investasi. Dengan populasi besar dan kelas menengah yang terus tumbuh, Indonesia menawarkan kombinasi antara basis produksi dan pasar konsumsi yang besar. Menurutnya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat investor memikirkan Indonesia sebagai destinasi investasi.
Ia membandingkan Indonesia dengan Vietnam. Meski negara tetangga itu mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik, Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi skala pasar dan daya beli masyarakat.
Nurul juga menyinggung Singapura, yang sangat bergantung pada sektor logistik dan industri, tapi tidak memiliki basis sumber daya alam seperti Indonesia. Ketergantungan tersebut membuat ketahanan ekonominya lebih rentan terhadap gangguan global.
Bahkan, dalam konteks transisi energi dan isu keberlanjutan, Indonesia tetap memegang peran penting. Nurul mencontohkan bagaimana Jerman masih mencari pasokan batu bara jangka panjang, meski pada saat yang sama mendorong agenda keberlanjutan.
“Ini yang membuat Indonesia menjadi anomali. Dunia tetap membutuhkan apa yang kita miliki,” katanya.
Ke depan, strategi BKPM dalam menarik investasi pada 2026 tidak hanya bertumpu pada promosi, tetapi juga pada keyakinan bahwa Indonesia memiliki modal struktural yang sulit disaingi seperti sumber daya alam, pasar domestik besar, dan stabilitas ekonomi.
Untuk 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menargetkan investasi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp2.175,26 triliun.
Target tersebut meningkat 14,2 persen dibandingkan dengan target investasi 2025 yang mencapai Rp 1.905,6 triliun.
