Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Intinya sih...

  • Kebijakan itu menjadi tekanan baru terhadap Teheran.

  • China, Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India adalah mitra dagang terbesar Iran yang berpotensi terdampak.

  • Gelombang protes besar-besaran di Iran memperburuk kondisi ekonomi negara yang sudah rapuh.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, baru saja membuat kondisi geopolitik global yang sudah kadung panas menjadi bergolak. Pada Senin (12/1) waktu setempat, Trump mengumumkan pemberlakuan tarif 25 persen terhadap barang-barang dari negara mana pun yang tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Kebijakan yang berlaku segera ini menjadi instrumen tekanan baru Washington terhadap Teheran di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang telah memasuki pekan ketiga. Trump menegaskan setiap negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran otomatis akan dikenakan tarif 25 persen untuk seluruh aktivitas perdagangannya dengan AS.

“Keputusan ini bersifat final dan mengikat,” demikian Trump tanpa memerinci lebih lanjut kategori kerja sama ekonomi yang akan terdampak, dikutip dari BBC (13/1).

Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan penjelasan teknis mengenai implementasi kebijakan tersebut, termasuk daftar negara yang diprediksi paling terdampak. Namun, data perdagangan menunjukkan Cina sebagai mitra dagang terbesar Iran, disusul oleh Irak, Uni Emirat Arab, Turki, dan India. Negara-negara tersebut kini berada di bawah bayang-bayang tarif baru Washington.

Langkah Trump muncul saat situasi internal Iran kian memanas. Gelombang protes besar-besaran yang pecah sejak akhir Desember dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial terhadap dolar AS. Aksi yang semula berfokus pada ketidakpuasan akan kondisi perekonomian domestik kini berkembang menjadi krisis legitimasi bagi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan hampir 500 demonstran dan 48 personel keamanan tewas sejak protes berlangsung. Ribuan orang lainnya dilaporkan telah ditangkap, meski verifikasi informasi sulit dilakukan akibat pemadaman internet total sejak Kamis malam.

Tekanan luar negeri makin memperburuk perekonomian Iran yang sudah rapuh.

Dalam setahun terakhir, nilai rial jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah dengan inflasi melonjak lebih dari 40 persen. Kondisi ini memicu kemarahan sektor usaha. Pada 28 Desember lalu, para pemilik toko di Teheran menutup usahanya sebagai bentuk protes atas krisis mata uang.

Di tengah situasi tersebut, Trump juga mengeluarkan ancaman intervensi militer jika pemerintah Iran menghabisi nyawa demonstran. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan opsi militer—termasuk serangan udara—tetap menjadi pertimbangan.

Meski demikian, Trump mengklaim para pejabat Iran telah menghubunginya untuk membuka jalur negosiasi.

“Mereka ingin mengajak saya bertemu,” ujar Trump, Minggu (11/1).

Namun, ia menambahkan AS mungkin harus bertindak sebelum pertemuan tersebut terjadi.

Editorial Team