Trump Tunda Kenaikan Tarif Furnitur di Tengah Negosiasi Dagang

- Trump menunda pemberlakuan tarif tinggi produk kayu hingga 2027
- Tarif impor lebih tinggi ditunda untuk furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan meja rias
- Tarif impor sebesar 25 persen yang sudah berlaku tetap dipertahankan
Jakarta, FORTUNE - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memutuskan untuk menunda pemberlakuan tarif impor lebih tinggi terhadap sejumlah produk kayu dan turunannya hingga 2027.
Kebijakan ini memberikan jeda tambahan satu tahun bagi komoditas furnitur berlapis kain, lemari dapur, serta meja rias yang semula dijadwalkan menghadapi kenaikan tarif pada awal 2026.
Keputusan tersebut ditetapkan melalui pengumuman resmi yang menukil Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan 1962. Instrumen hukum ini memberikan wewenang penuh kepada presiden untuk membatasi impor yang dinilai mengancam keamanan nasional.
“Amerika Serikat akan menunda kenaikan tarif untuk furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan meja rias yang seharusnya berlaku pada 1 Januari 2026, berdasarkan maklumat pada 29 September 2025, selama satu tahun tambahan,” ujar Trump sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Gedung Putih, Jumat (2/1).
Kendati demikian, para pelaku industri tetap harus menanggung tarif impor 25 persen yang saat ini sudah berjalan.
Tarif tersebut tetap diberlakukan pada produk meja rias, lemari dapur, dan furnitur tekstil tertentu sesuai aturan dalam maklumat pada 25 September 2025. Artinya, langkah terbaru ini murni berfungsi menahan eskalasi tarif, bukan merupakan pelonggaran beban pajak impor.
Gedung Putih menyebutkan penundaan ini diambil sejalan dengan proses negosiasi produktif yang tengah berlangsung dengan sejumlah mitra dagang. Washington tengah membahas isu timbal balik perdagangan sekaligus mengevaluasi risiko keamanan nasional terkait ketergantungan pada impor hasil hutan.
Jeda waktu ini diharapkan mampu membuka ruang dialog sebelum kebijakan yang lebih agresif diterapkan.
Sebelumnya, Trump memberlakukan tarif terhadap kayu dan produk turunannya setelah investigasi Departemen Perdagangan AS menyimpulkan adanya ancaman terhadap keamanan nasional.
Lonjakan volume impor dinilai dapat melemahkan kekuatan ekonomi domestik, mengganggu rantai pasok industri konstruksi, serta menggerus kemampuan pertahanan Amerika Serikat.
Situasi tersebut diperparah oleh praktik perdagangan yang dianggap tidak adil serta adanya subsidi dari pemerintah asing yang menekan daya saing industri kayu dalam negeri AS.
Penundaan eskalasi tarif ini juga merupakan bagian dari strategi besar pemerintahan Trump dalam mengamankan sektor-sektor strategis. Sepanjang masa jabatannya, Trump konsisten menggunakan instrumen Pasal 232 untuk melindungi industri vital seperti baja, aluminium, tembaga, hingga otomotif.
Saat ini, Departemen Perdagangan AS dikabarkan tengah memperluas investigasi serupa ke berbagai sektor lain, mulai dari semikonduktor, pesawat terbang komersial, robotika, hingga alat pelindung diri (APD).
Sebagai catatan, pada September lalu Trump telah menetapkan tarif baru sebesar 25 persen untuk lemari dapur dan furnitur berlapis kain yang efektif berlaku sejak Oktober 2025.
Sedianya, tarif tersebut akan dikerek hingga 50 persen untuk lemari dapur dan 30 persen untuk furnitur pada 2026. Dengan adanya maklumat terbaru, rencana kenaikan signifikan tersebut kini resmi diundur setidaknya hingga 2027.


















