Jakarta, FORTUNE - Sebanyak 11 eksekutif dan peneliti meninggalkan Google sepanjang 2025, dan sebagian besar dari mereka justru bergabung dengan Microsoft. Perpindahan ini banyak terjadi di lini kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan, meski Google pada saat yang sama juga merekrut talenta dari sesama raksasa teknologi global.
Berbeda dengan Apple, yang mayoritas kehilangan talenta AI ke Meta yang tahun ini agresif menggelontorkan dana besar untuk perekrutan, sebagian besar figur penting yang hengkang dari Google justru berakhir di Microsoft.
Melansir Business Insider, persaingan antara Google DeepMind dan unit AI Microsoft bahkan merepresentasikan rivalitas personal antara dua pendiri DeepMind yang kini berpisah jalan. Mustafa Suleyman, yang kini memimpin pengembangan AI konsumen di Microsoft, dan Demis Hassabis, CEO Google DeepMind saat ini, mendirikan DeepMind bersama peneliti Shane Legg pada 2010. Laboratorium riset tersebut tumbuh menjadi institusi berpengaruh hingga akhirnya diakuisisi Google dengan nilai lebih dari US$500 juta pada 2014.
Namun satu dekade kemudian, Suleyman meninggalkan Google dan mendirikan Inflection AI. Ia dan sebagian besar timnya kemudian diakuisisi Microsoft melalui skema “acqui-hire” senilai US$650 juta, yang mengantarkannya menjadi pemimpin AI di perusahaan tersebut.
Melansir Financial Times, persaingan memperebutkan talenta AI kian memanas, bahkan ketika pasar kerja Big Tech mulai melambat. Persaingan talenta turut menjadi ukuran kompetisi kemampuan inovasi antar perusahaan.
Talenta teratas yang berpengalaman mengembangkan sistem AI canggih menjadi aset strategis, memengaruhi kemampuan masing-masing perusahaan menghadirkan produk dan layanan unggulan. Pertarungan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi tentang siapa yang menguasai masa depan platform digital global, di mana AI menjadi komponen fundamental dari setiap layanan digital generasi berikutnya.
Berikut daftar talenta AI yang hengkang dari Google dan destinasi karier mereka selanjutnya.
