Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

AI Ambil Alih Pekerjaan, Risiko Akses Ikut Meningkat

3 min read
AI Ambil Alih Pekerjaan, Risiko Akses Ikut Meningkat
ilustrasi penerapan Agentic AI dalam pekerjaan (freepik.com/user4894991)
  • AI di perusahaan kini dapat menjalankan pekerjaan, mengakses sistem, memanggil perangkat lunak, memanipulasi data, dan bertindak dengan izin pengguna.

  • F5 memperluas pengawasan melalui Workforce AI Security untuk memantau identitas, aktivitas, risiko, serta tindakan AI agent.

  • Keamanan AI bergeser ke pengawasan penggunaan, akses data, dan tindakan AI agent di berbagai jalur interaksi perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa fokus utama perusahaan saat memakai AI agent?
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan perusahaan mulai bergeser dari sekadar memberikan prompt dan query dasar, menjadi alat yang dapat menjalankan pekerjaan secara mandiri. AI assistant dan coding agent kini dapat mengakses sistem perusahaan, memanggil berbagai perangkat lunak, memanipulasi data, hingga menjalankan tindakan menggunakan izin yang dimiliki pengguna.

Perubahan ini membuat perusahaan perlu memperluas pengawasan, terutama terhadap akses data dan sistem yang digunakan AI atas nama karyawan.

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, F5 dalam laporan 2026 State of Application Strategy Report, mengungkapkan sebanyak 66 persen perusahaan organisasi telah mengizinkan AI menyesuaikan kebijakan dan konfigurasi secara otomatis.

Seiring dengan semakin banyaknya pekerjaan yang didelegasikan oleh karyawan kepada AI, agent-agent tersebut juga dapat memperoleh akses ke data, izin dan sistem perusahaan. Bagi perusahaan, risikonya bukan lagi hanya terkait layanan AI apa yang digunakan karyawan atau data apa yang dimasukkan ke dalam sistem AI, tetapi juga tindakan yang dapat dilakukan AI dengan akses tersebut.

“Karyawan kini tidak lagi sekadar bertanya kepada AI. Mereka menyerahkan pekerjaan kepada AI agent yang dapat masuk ke dalam sistem perusahaan, memanggil tools, dan mengubah data atas nama mereka,” ujar Kunal Anand, Chief Product Officer F5 dalam keterangannya dikutip Senin (5/10).

  1. Pengawasan Meluas ke AI Agent

    Perubahan pola penggunaan tersebut mendorong F5 memperluas platform keamanan AI dengan menghadirkan F5 Workforce AI Security, yang dirancang untuk memberikan visibilitas dan kontrol terhadap penggunaan AI oleh karyawan serta aktivitas AI agent yang dilakukan atas nama pengguna.

    Pendekatan ini mencakup pengawasan terhadap layanan AI yang digunakan melalui browser dan perangkat pengembangan, termasuk kontrol terhadap layanan, tingkat lisensi, unggahan file, dan kebijakan data.

    Perusahaan juga dapat mengaitkan aktivitas AI dengan identitas pengguna dan agent, serta melihat konteks interaksi, risiko, dan keputusan kebijakan untuk kebutuhan pengawasan dan audit.

    Pada sisi lain, tindakan yang dilakukan AI agent dapat diperiksa sebelum dieksekusi. Pemanggilan tools melalui MCP server dan perangkat agent dapat diklasifikasikan berdasarkan identitas, tingkat risiko akses, serta paparan terhadap data sensitif.

    Kontrol tersebut memungkinkan perusahaan menentukan apakah suatu tindakan dapat diizinkan, diblokir, atau diubah sebelum dijalankan.

    F5 menyebut pengawasan dapat diterapkan pada berbagai jalur interaksi, termasuk browser, command-line interface (CLI), coding agent, MCP client, dan agent harnesses. Pendekatan tersebut tidak membutuhkan instalasi klien tambahan pada endpoint.

  2. Perluasan Platform AI Security

    F5 memperkenalkan AI Security Platform pada Juni 2026 sebagai bagian dari strategi memperluas keamanan di seluruh siklus penggunaan AI perusahaan. Platform tersebut mencakup visibilitas, tata kelola, pengujian, dan perlindungan saat AI berjalan.

    Pada Agustus 2026, F5 menambahkan kemampuan AI Gateway, termasuk MCP Gateway, untuk mengatur lalu lintas dan kebijakan pada aplikasi, model, agent, dan berbagai tools AI.

    Dengan Workforce AI Security, cakupan pengawasan diperluas ke sisi pengguna dan aktivitas AI agent yang bekerja atas nama mereka.

    Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keamanan AI di lingkungan perusahaan mulai bergeser dari perlindungan terhadap model atau aplikasi semata menuju pengawasan terhadap siapa yang menggunakan AI, data apa yang dapat diakses, serta tindakan apa yang dapat dilakukan AI.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More