Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ilustrasi artificial intelligence
ilustrasi artificial intelligence (freepik.com/DC Studio)

Jakarta, FORTUNE — Di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan fiskal yang kian nyata, penyakit tidak menular (non-communicable diseases/NCD) muncul sebagai risiko struktural yang kerap luput dari perhitungan bisnis dan kebijakan. Dampaknya tidak hanya menggerus sistem kesehatan, tetapi juga produktivitas, daya saing, dan keberlanjutan anggaran negara.

World Economic Forum (WEF) bersama Harvard memperkirakan beban ekonomi NCD secara global berpotensi melampaui US$30 triliun dalam dua dekade ke depan. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan negara berpendapatan rendah hingga menengah dapat menanggung kerugian kumulatif lebih dari US$7 triliun hingga 2025 apabila tidak melakukan intervensi pencegahan bertaraf best buy.

Indonesia termasuk negara dengan eksposur tinggi. Laporan Economics of Non-Communicable Diseases in Indonesia memproyeksikan NCD dapat menggerus sekitar US$4,47 triliun dari output ekonomi nasional sepanjang 2012–2030, setara lebih dari 5 persen total PDB kumulatif. Dari sisi kesehatan publik, NCD juga berkorelasi dengan sekitar 70 persen kematian dini, yang berdampak langsung pada hilangnya tahun-tahun produktif tenaga kerja.

Distinguished Professor Dr. Tegar Septyan Hidayat, Chairman B3C Global sekaligus pendiri TEG Institute, menyebut situasi ini sebagai The Syndemic Trap—kondisi ketika penyakit kronis, tekanan mental, dan kerentanan ekonomi saling mengunci dan memperparah dampaknya. “Kita tidak menghadapi satu musuh tunggal. Isu kesehatan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan aspek ekonomi dan sosial secara sistemik," ujarnya kepada Fortune Indonesia (17/2).

Menurut Prof. Tegar, pendekatan sickcare yang reaktif atau menunggu masyarakat jatuh sakit sebelum bertindak, tidak lagi relevan dalam konteks pengendalian biaya jangka panjang dan perlindungan produktivitas nasional. Ia mendorong pergeseran menuju proactive health, yakni pendekatan kesehatan yang bersifat preventif, prediktif, inklusif, dan mudah diakses.

Dalam konteks itu, TEG Institute mengembangkan AI BUGAR (AI + Bio-Upgraded Game As Reality) sebagai bagian dari perluasan ekosistem Game As Reality dan GameTwin. Platform ini memanfaatkan sensor ponsel dan kecerdasan buatan berbasis konteks lokal untuk membaca sinyal risiko kesehatan dan menerjemahkannya menjadi intervensi perilaku ringan. Teknologi tersebut telah melalui validasi in silico berbasis simulasi lebih dari 500 ribu profil yang mencerminkan keragaman demografi dan fisiologi penduduk Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Pemodelan tersebut mencakup pemetaan risiko metabolik seperti hipertensi dan diabetes, aspek kesehatan mental seperti stres dan kecemasan, anemia, hingga gangguan pernapasan. Alih-alih menyajikan peringatan medis, sistem ini menggabungkan penilaian risiko dengan misi berbasis permainan untuk mendorong perubahan perilaku.

Nilai ekonominya, menurut Prof. Tegar, tidak hanya berada pada level individu. Dengan prinsip privacy-first, data dianonimkan dan diagregasikan untuk berfungsi sebagai population sensing—pemetaan risiko kesehatan kolektif yang dapat memberi sinyal dini bagi pemerintah atau korporasi, seperti potensi lonjakan diabetes di wilayah tertentu atau peningkatan stres pada sektor kerja spesifik.

Namun ia menegaskan, AI BUGAR tidak diposisikan sebagai alat diagnosis. “Radar antisipatif” menjadi istilah yang ia gunakan, yakni untuk mendeteksi pola risiko lebih awal sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum menjadi beban katastropik bagi sistem pembiayaan kesehatan dan produktivitas nasional.

Pendekatan ini sejalan dengan kalkulasi ekonomi WHO yang memperkirakan setiap US$1 investasi pada intervensi NCD yang efektif di negara berpendapatan rendah hingga menengah dapat menghasilkan pengembalian hingga US$7. Menurutnya, Indonesia memiliki modal unik untuk mengadopsi pendekatan tersebut.

“Indonesia punya modal unik. Tantangannya adalah mengubahnya menjadi infrastruktur kesehatan proaktif. Kita berupaya untuk tidak lagi menjadi korban dan menunggu krisis kesehatan berikutnya, tetapi mengalahkannya sebelum ia datang,” katanya.

Editorial Team