TECH

Mengenal Komputasi Berkelanjutan di Era Serba Digital

Pusat data bisa habiskan sekitar 1 persen listrik global.

Mengenal Komputasi Berkelanjutan di Era Serba DigitalIlustrasi pusat data. (Pixabay/Elchinator)
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE – Perkembangan teknologi digital berjalan seiring isu keberlanjutan yang juga makin gencar digaungkan oleh masyarakat global. Salah satunya, sustainable computing atau komputasi berkelanjutan.

Penggunaan energi menjadi salah satu penyokong pengembangan teknologi. World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa pusat data, yang memfasilitasi pencarian Google, email, metaverse, AI, dan teknologi berbasis data lainnya, sedikitnya menghabiskan sekitar 1 persen dari produksi listrik global, dan jumlah ini hanya akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan akan layanan data.

Untuk itu, konsep komputasi berkelanjutan pun dibutuhkan. Teknologi dan langkah keberlanjutan bisa diterapkan secara bersamaan, bahkan saling mendukung dan menguatkan. Berdasar pada laporan WEF soal teknologi berkembang yang bisa mengubah dunia, berikut ini, Fortune Indonesia akan mengulas lebih lanjut tentang komputasi berkelanjutan.

Pengertian

Mengutip laman resmi ibm.com, komputasi berkelanjutan juga dikenal sebagai komputasi hijau. Konsep ini adalah desain, pembuatan, penggunaan, dan pembuangan komputer, cip, komponen dan periferal teknologi lainnya, dengan cara membatasi dampak berbahaya terhadap lingkungan. Hal ini termasuk mengurangi emisi karbon dan energi yang dikonsumsi oleh produsen, pusat data, dan pengguna akhir.

Selain itu, komputasi berkelanjutan juga mencakup pemilihan bahan baku yang bersumber secara berkelanjutan, mengurangi limbah elektronik dan mempromosikan keberlanjutan melalui penggunaan sumber daya terbarukan.

Mencapai pusat data yang berorientasi pada penggunaan energi nol bersih butuh pendekatan inovatif untuk mengintegrasikan sejumlah pendekatan dengan teknologi pembangkit, penyimpanan, dan manajemen listrik baru yang ramah lingkungan. Mengingat gelombang inovasi dan investasi yang juga berkembang di bidang ini, maka komputasi berkelanjutan pun memiliki peluang baik di tahun-tahun mendatang.

Upaya

WEF merumuskan beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam mewujudkan komputasi berkelanjutan. Meski tidak ada satu formula pun yang secara pasti bisa bekerja dengan hasil 100 persen, namun sejumlah upaya ini diharapkan bisa menjadi pondasi kuat bagi langkah-langkah lain menuju pusat data energi nol bersih. Berikut ini adalah beberapa rekomendasinya:

  1. Upaya mengatasi masalah pengelolaan panas, sistem pendingin cair sedang dikembangkan yang menggunakan air atau pendingin dielektrik untuk menghilangkan panas, dan kelebihan panas digunakan kembali untuk aplikasi termasuk pemanas ruangan, pemanas air, dan proses industri. Sebagai contoh, kota Stockholm menerapkan proyek untuk memanfaatkan limbah panas dari pusat data untuk menghangatkan rumah.
  2. Kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk menganalisis dan mengoptimalkan penggunaan energi secara real-time, dengan memaksimalkan efisiensi tanpa mengorbankan kinerja. Salah satu contoh yang sudah berjalan, DeepMind telah berhasil mendemonstrasikan potensi manajemen energi bertenaga AI, mencapai pengurangan konsumsi energi hingga 40 persen di pusat data Google.
  3. Infrastruktur teknologi yang mendukung pusat data net-zero-energy menjadi lebih modular dan berbasis permintaan. Misalnya, sistem komputasi cloud dan edge memungkinkan pemrosesan dan penyimpanan data tersebar di beberapa perangkat, sistem, dan bahkan lokasi. Sebagai contoh, Crusoe Energy memasang pusat data modularnya di lokasi di mana pembakaran metana terjadi untuk memungkinkan infrastruktur komputasi awan ditenagai oleh gas metana yang seharusnya dilepaskan langsung ke atmosfer. Inovasi tambahan dalam perangkat lunak dan perangkat keras mencakup arsitektur komputasi baru seperti sistem pada sebuah chip; dan pengoptimalan seperti komputasi proporsional energi, di mana komputer menggunakan energi sebanding dengan jumlah pekerjaan yang dilakukan.

Demikianlah beberapa hal yang perlu diketahui soal komputasi berkelanjutan. Semoga membantu.