Comscore Tracker
TECH

Facebook, Perubahan Nama, dan Metaverse

Zuckerberg akan membicarakannya di Facebook Connect.

Facebook, Perubahan Nama, dan MetaverseIlustrasi CEO Facebook, Mark Zuckerberg. (Wikimedia Commons)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Facebook berencana mengubah nama perusahaan dalam waktu dekat ini. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, dikabarkan akan membicarakannya di pertemuan tahunan Facebook Connect 2021 pada 28 Oktober. Pengubahan nama terkait dengan rencana Facebook membangun metaverse.

Melansir The Verge, konsep metaverse bakal menjadi prioritas terbesar Facebook ke depan. Zuckerberg pun sudah mengungkapkannya sejak Juli 2021. “Kami secara efektif akan bertransisi dari perusahaan media sosial menjadi perusahaan metaverse,” ujarnya.

Walau santer dibicarakan, Facebook masih menjaga ketat nama barunya, bahkan di antara para pemimpin perusahaan tersebut. Meski demikian, sejumlah nama pun mulai dibicarakan, salah satunya berhubungan dengan kata Horizon. Beberapa waktu terakhir, Facebook menggunakan kata ini pada sejumlah anak usahanya, seperti Horizon World dan Horizon Workrooms.

Perubahan nama perusahaan merupakan sesuatu yang lazim. Contohnya, Google yang melakukan reorganisasi sepenuhnya di bawah perusahaan induk, Alphabet, pada 2015. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa Google bukan lagi sekedar mesin pencari di dunia maya, tetapi berkembang jadi perusahaan besar yang berfokus pada teknologi, seperti mobil tanpa pengemudi maupun peralatan kesehatan.

Perbaikan citra di tengah deraan berbagai masalah

Perubahan nama Facebook juga dikaitkan dengan perbaikan citra perusahaan yang sempat terganggu dengan beberapa isu keamanan data pengguna. Misalnya, serangkaian dokumen yang dibocorkan oleh Frances Haugen, manajer produk di tim integritas sipil di Facebook. Ia menuduh Facebook lebih mengutamakan "segunung cuan ketimbang manusia".

Dampak dari kebocoran dokumen ini, Facebook harus menghadapi sejumlah tuduhan, mulai dari tidak membagikan temuan penelitian bahwa Instragram merusak kesehatan mental remaja, hingga tudingan monopoli perusahaan yang menyebabkan Facebook harus berhadapan dengan Kongres Amerika Serikat.

Kabar terkini seperti diberitakan The Verge (20/10), Senator Richard Blumenthal (D-CT), ketua subkomite Senat Komite Perdagangan untuk perlindungan konsumen, meminta para eksekutif Facebook untuk bersaksi sehubungan dengan bahaya kesehatan mental yang terjadi dalam platform instagram. “Orang tua itu, dan dua puluh juta remaja yang menggunakan aplikasi Anda, memiliki hak untuk mengetahui kebenaran tentang keamanan Instagram,” katanya kepada Instagram.

Berbagai upaya yang sudah dilakukan

Sebelumnya, Facebook sudah mengumumkan rencananya mempekerjakan 10.000 penduduk Uni Eropa (UE) dalam pengembangan metaverse. Perusahaan teknologi ini dikabarkan juga sudah memproduksi perangkat keras seperti kacamata augmented reality (AR) yang diperkirakan akan jadi gawai populer seperti layaknya smartphone. Melalui berbagai upaya ini, Facebook terus meletakkan dasar untuk berfokus pada teknologi generasi berikutnya.

Tim khusus yang menangani pembangunan metaverse juga tengah dibentuk. Baru-baru ini, Kepala AR dan VR, Andrew Bosworth, akan dipromosikan menjadi Chief Technology Officer (CTO). Wujud metaverse pun semakin dekat untuk menjadi nyata. “Metaverse akan menjadi fokus besar, dan saya pikir ini hanya akan menjadi bagian besar dari bab selanjutnya tentang cara internet berkembang setelah internet seluler," ucap Zuckerberg kepada The Verge.

Permasalahannya, konsep metaverse bukanlah sesuatu yang mudah dipahami secara umum. Walau sudah dipromosikan selama beberapa bulan terakhir, namun bagi sebagian besar orang, hal ini masih sangat fiksional dan sulit dibayangkan bentuk operasionalnya.

Optimisme Zuckerberg

Lebih jauh, metaverse lebih dari sekedar realitas virtual. Zuckerberg berharap, konsep ini akan memberikan manfaat dan membantu kehidupan manusia. Tidak hanya mendukung komunikasi yang tak terbatas ruang dan waktu, namun juga memberikan kemudahan seperti rapat jarak jauh maupun tindakan medis yang dilakukan dari tempat berbeda.

“Saya pikir ini adalah lingkungan yang terus-menerus dan sinkron di mana kita bisa bersama, yang menurut saya mungkin akan menyerupai semacam hibrida antara platform sosial yang kita lihat hari ini sekaligus lingkungan tempat Anda berada,” kata Zuckerberg saat diwawancarai The Verge.

Zuckerberg yakin bahwa gagasannya ini dapat diterapkan layaknya dunia nyata. Walaupun banyak sisi yang perlu dikerjakan, namun metaverse bukanlah hal mustahil dan sangat mungkin terwujud. “Nah, yang membuat saya bersemangat adalah membantu orang menyampaikan dan merasakan kehadiran yang lebih kuat dengan orang-orang yang mereka sayangi, orang-orang yang bekerja dengan mereka, tempat-tempat yang mereka inginkan,” tuturnya.

Apa itu metaverse

Penjelasan berikut mungkin tidak memuaskan. Namun, secara ringkas bakal memberikan gambaran mengenai maksud Zuckerberg akan metaverse.

Sebenarnya itu istilah umum belaka yang biasanya merujuk kepada lingkungan jagat virtual yang dapat orang akses via internet.  

Istilah tersebut, menurut Reuters, dapat mengacu pada ruang digital yang dibuat lebih menyerupai kenyataan dengan menggunakan teknologi realitas virtual (VR) atau realitas berimbuh (AR).

Ada pula yang menggunakan istilah metaverse untuk melukiskan dunia gaming tempat para pemainnya dapat memiliki karakter yang dapat berkeliling dan berinteraksi dengan satu sama lain. 

Sejenis metaverse tertentu juga hadir dengan memanfaatkan teknologi blockchain yang sebelumnya banyak dipakai dalam cryptocurrency atau NFT. 

Banyak buku dan film fiksi ilmiah berlatar sepenuhnya pada metaverse, yakni dunia digital alternatif yang dapat dibedakan dari dunia nyata. Tetapi, lagi-lagi, itu hanya karangan saja. Kini, banyak ruang virtual lebih berupa dalaman video game ketimbang kehidupan nyata. 

Related Articles