Comscore Tracker
TECH

BSSN Gandeng Microsoft Bikin Program Khusus Atasi Kejahatan Siber

Ada sekitar 1,6 miliar serangan siber di Indonesia pada 2021

BSSN Gandeng Microsoft Bikin Program Khusus Atasi Kejahatan SiberBSSN dan Microsoft Jalin Kemitraan untuk Perangi Peningkatan Kejahatan Siber di Indonesia Melalui Program Intelijen Ancaman Siber. Dok/Microsoft.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Badan Siber dan Sandi Negara (BSNN) menggelar kerja sama strategis dengan Microsoft untuk membuat Program Intelijen Ancaman Siber (Cyber Threat Intelligence Program/CTIP) Microsoft. Kemitraan ini bertujuan memperkuat keamanan infrastruktur negara terhadap ancaman siber karena BSSN akan mendapat akses ke intelijen ancaman siber Microsoft di Indonesia.

Pada saat sama, BSSN dengan pengetahuan domain jaringannya dapat membantu menjalankan intelijen dua arah untuk mengidentifikasi potensi infrastruktur yang disusupi, dan memperingatkan entitas yang terkena dampak di Indonesia terhadap potensi ancaman kejahatan siber.

“Kami berharap dapat meningkatkan jaminan keamanan siber Indonesia untuk semua sektor, baik pemerintahan, infrastruktur informasi vital, ekonomi digital dan masyarakat,” kata Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Dominggus Pakel, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (11/8).

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2021, BSSN melaksanakan tugas pemerintahan di bidang keamanan siber dan sandi untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan.

Dalam melaksanakan tugasnya, BSSN melaksanakan operasi keamanan siber melalui identifikasi, deteksi, proteksi, penanggulangan, pemulihan, dan pemantauan insiden keamanan siber dan sandi nasional, serta pengelolaan krisis siber nasional.

Serangan siber

Ilustrasi keamanan siber. Shutterstock/Gorodenkoff

Menurut data hasil pemantauan oleh Pusat Operasi Keamanan Siber Nasional/National Cybersecurity Operation Center (NSOC), BSNN telah mencatat sekitar 1,6 miliar anomali trafik atau serangan siber di Indonesia tahun lalu. Angka tersebut meningkat tiga kali lipat ketimbang 2020.

Jenis serangan siber ini bersifat teknis, seperti malware, aktivitas trojan, dan lain-lain. “Kemitraan yang baru terbentuk dengan Microsoft kini diharapkan dapat memperkuat proses kerja BSSN khususnya dalam bidang intelijen ancaman siber dan analisis malware,” ujarnya.

Assistant General Counsel dan Regional Lead Microsoft Digital Crimes Unit Asia, Mary Jo Schrade, menyatakan program ini akan dipimpin oleh Unit Kejahatan Digital (Digital Crimes Unit/DCU). Menurutnya, DCU merupakan tim internasional yang dibentuk pada 2008, serta terdiri dari pakar teknis, hukum, dan bisnis, yang bertujuan untuk memerangi kejahatan siber dalam skala global.

“Keahlian dan pandangan DCU akan jaringan kriminal online dapat menemukan berbagai bukti yang bisa digunakan sebagai rujukan kriminal ke lembaga penegak hukum di seluruh dunia,” katanya.

Sejak 2010, DCU telah berkolaborasi dengan penegak hukum dan mitra global lainnya dalam menghadapi 25 operasi gangguan malware di seluruh dunia, sehingga membantu jutaan perangkat untuk tetap aman dari penjahat siber.

Sementara, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, memberikan penekanan mengenai ketidakmungkinan bagi perusahaan atau negara untuk dapat memenangkan peperangan keamanan siber sendirian. Karenanya, kemitraan lintas organisasi dan industri menjadi sangat penting.

Microsoft mengeklaim akan menginvestasikan US$20 miliar selama lima tahun untuk mendukung ikhtiar percepatan integrasi keamanan siber dan solusi keamanan secara global.

Related Articles