Comscore Tracker
TECH

Industri Teknologi AS Ramai Pangkas Pekerja dan Mulai Hemat Biaya

Perusahaan teknologi tertekan faktor internal dan eksternal.

Industri Teknologi AS Ramai Pangkas Pekerja dan Mulai Hemat BiayaShutterStock/PopTika

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Sejumlah perusahaan teknologi di Amerika Serikat mulai mengencangkan ikat pinggang dengan menyetop perekrutan karyawan, menghemat biaya, bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Direktur Utama PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, berpendapat perusahaan teknologi memang sempat menangguk hasil positif kala Covid-19 mewabah menyusul peralihan lebih cepat ke gaya hidup digital karena pembatasan sosial.

Namun, situasinya kali ini berbeda, kata Hans. Pasalnya, seiring penyebaran virus corona yang mulai mereda, masyarakat kembali berkegiatan secara normal dan di saat sama mengurangi aktivitas digital.

“Di sisi lain, suku bunga acuan saat ini sedang naik. Perusahaan teknologi itu masih banyak yang rugi maupun mengandalkan pertumbuhan jangka panjang. Pertumbuhan jangka panjang itu akan sangat terpengaruh oleh suku bunga acuan. Kalau suku bunga acuannya tinggi, perusahaan teknologi akan turun,” kata Hans kepada Fortune Indonesia, Senin (9/5).

Menurut laman Fortune, Kamis (5/5), sejumlah perusahaan teknologi papan atas mulai melakukan langkah efisiensi seiring kemelut ekonomi global. Pada saat sama, perusahaan modal ventura bosan dengan startup yang menerapkan strategi bakar uang. Di sisi lain, investor juga mencari jenis saham yang lebih aman.

Kasus Meta bisa jadi misal. Induk dari Facebook dan Instagram itu mengurangi target perekrutan dan menyetop lowongan pekerjaan di banyak posisi teknik (engineering).  

Lalu, Netflix telah memecat 25 karyawan bagian pemasaran. Sedangkan, RobinHood, platform investasi, memecat 340 karyawan atau hampir 10 persen dari total karyawannya. Itu belum termasuk GoPuff, perusahaan pengiriman cepat dan Better.com, perusahaan kredit kepemilikan rumah (KPR), yang memutuskan kebijakan serupa.

Dikutip dari Antara, The Fed, Rabu (4/5), menaikkan tingkat suku bunga acuan menjadi 0,75 persen hingga 1,0 persen, yang paling tajam sejak 2000. Kebijakan bank sentral ini menyusul inflasi AS yang mencapai 8,5 persen.  

Faktor internal

Ilustrasi Saham Online

Penurunan kinerja juga didorong oleh faktor internal masing-masing perusahaan teknologi, menurut Hans Kwee. Kasus Netflix yang kehilangan 200 ribu pelanggan pada akhir 2021 bisa jadi contoh. Alhasil, kapitalisasi pasar perusahaan ini sempat turun lebih dari US$50 miliar, Rabu (20/4).

CEO Robinhood, Vlad Tenev, mengatakan keputusan PHK lantaran perusahaan memandang perlu mengurangi jumlah karyawannya. Hal itu usai perseroan terlalu banyak mempekerjakan pegawai di tengah lonjakan aktivitas saat pandemi.

“Jika pandemi mulai berakhir, orang tadinya kalau di rumah banyak nonton. Tapi kalau sudah bekerja lagi kan pasti turun,” ujar Hans. “Sebenarnya ini hal yang sama dengan platform investasi. Selama periode pandemi itu orang investasi, salah satunya online investment. Jadi sesudah pandemi pasti aktivitas itu mulai berkurang.”

Pun begitu, menurut Hans, perusahaan teknologi juga diperkirakan takkan tumbuh ketimbang periode saat virus corona mewabah. Dengan begitu, perseroan lantas melakukan efisensi.

Sementara, Meta saat ini berfokus pada pengembangan metaverse. Mereka bahkan menggelontorkan dana mencapai US$10 miliar meski metaverse belum memberikan hasil positif bagi perseroan.

Sebagian besar perusahaan teknologi memang masih membukukan pertumbuhan pendapatan pada 2022, meski pada tingkat yang lebih lambat ketimbang tahun sebelumnya, menurut Fortune.com.

Sinyal suku bunga yang akan terus naik, bahkan kemungkinan resesi atau pertumbuhan ekonomi negatif, juga akan menjadi sentimen negatif bagi perusahaan teknologi.

Indeks Nasdaq 100 di bursa saham AS, yang lekat dengan perusahaan teknologi, tahun ini menunjukkan penurunan 20 persen.

Saham teknologi di Indonesia

Ilustrasi Bursa Saham.

Bursa Efek Indonesia (BEI) merekam indeks saham teknologi yang terkoreksi 12,04 persen sepanjang tahun ini (year-to-date/ytd).

Menurut Hans, perusahaan teknologi, terlebih yang belakangan baru melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO), pergerakan sahamnya juga cenderung menurun.

Ambil misal saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Pada penutupan hari ini (9/5), harganya Rp254 per saham. Padahal, harga penawarannya saat IPO mencapai Rp338 per unit.

Demikian juga saham PT Bukalapak.com Tbk yang hanya sebesar Rp356 per saham ketimbang Rp850 per saham saat penawaran umum perdana.

“Artinya, perusahaan teknologi memang harus berubah dengan cepat untuk memperbaiki bisnisnya,” katanya.

Hans memberikan penekanan soal investor yang bakal melihat prospek perusahaan teknologi ke depannya, terutama soal bagaimana perseroan mencetak profitabilitas serta pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sebagai gambaran, GoTo kuartal ketiga tahun lalu rugi Rp11,58 triliun, atau membengkak dari Rp10,42 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan, Bukalapak kuartal pertama tahun ini meraih laba Rp14,5 triliun. Padahal, periode sama tahun sebelumnya rugi Rp323,81 miliar. Akan tetapi, keuntungan Bukalapak ini lebih condong diakibatkan laba nilai investasi dari PT Allo Bank Tbk yang belum dan sudah terealisasi sebesar Rp14,42 triliun.

Related Articles