Comscore Tracker
TECH

Kinerja Q3/2022 Solid, Tower Bersama Raup Laba Rp1,2 Triliun

Pendapatan TBIG tumbuh 7,9 persen menjadi Rp4,92 triliun.

Kinerja Q3/2022 Solid, Tower Bersama Raup Laba Rp1,2 TriliunIlustrasi Menara BTS. (ShutterStock/Alpen Works)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk pada Januari sampai September tahun ini berhasil meraih laba Rp1,22 triliun, naik 13,1 persen dari Rp1,08 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Pendapatan perusahaan telekomunikasi itu pada periode sama tumbuh 7,9 persen menjadi Rp4,92 triliun, dan laba perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (ebitda) Rp4,28 triliun.

Per September 2022, emiten berkode TBIG itu memiliki 40.691 penyewaan dan 21.666 sites telekomunikasi, terdiri dari 21.553 menara telekomunikasi dan 113 jaringan DAS.

Menurut CEO TBIG, Hardi Wijaya Liomng, dengan angka total penyewaan 40.578 pada menara telekomunikasi, maka rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan menjadi 1,88 kali.

“Pada sembilan bulan pertama 2022, kami telah menambahkan 2.017 penyewaan ke dalam portofolio kami yang terdiri dari 1.173 sites telekomunikasi dan 844 kolokasi. Penambahan penyewaan bersih dari grup lebih rendah terutama karena penghentian sewa dari Sampoerna Telecom di awal tahun,” kata Hari dalam rilis resmi, Selasa (22/11).

Perusahaan telah mencapai kesepakatan komersial untuk memperbarui penyewaan, yang merupakan bagian dari transaksi penjualan dan penyewaan kembali pada 2012 dengan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan berakhir pada Agustus 2022.

“Kami terus melakukan roll-out untuk pelanggan kami para operator telekomunikasi dan selain pesanan kami untuk menara dan kolokasi baru, kami telah melihat peningkatan pesanan build-to-suit untuk serat optik,” ujarnya.

Kondisi pinjaman

Total pinjaman kotor TBIG, jika bagian pinjaman dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang telah dilindung nilai diukur dengan menggunakan kurs lindung nilainya, Rp26,39 triliun, dan total pinjaman seniornya Rp2,67 triliun.

Menurut CFO TBIG, Yusman Santoso, 90 persen dari utang perusahaan per akhir kuartal ketiga adalah obligasi berbunga tetap dalam mata uang lokal dan asing. Perusahaan itu juga memiliki lindung nilai tambahan untuk suku bunga demi melindungi pinjaman dengan suku bunga mengambang yang tersisa.

“Kami telah melihat biaya pembiayaan menyeluruh kami terus menurun menjadi 6,2 persen dari 7,0 persen pada akhir tahun 2021. Karena kami tidak memiliki amortisasi utang yang material selama 24 bulan ke depan, kami berharap untuk tetap relatif terlindungi dari situasi kenaikan suku bunga,” ujar Yusman.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini harga saham TBIG mencapai Rp2.310 per saham, atau terkoreksi 22,7 persen secara tahunan.

Related Articles