Comscore Tracker
TECH

Lebih Dari Aset Kripto, Begini Utilitas Blockchain Menurut Indodax

Blockchain menyimpan banyak manfaat untuk ekonomi masyarakat

Lebih Dari Aset Kripto, Begini Utilitas Blockchain Menurut IndodaxCEO Indodax Oscar Darmawan saat mengisi acara FORTUNE Indonesia Summit bertajuk The Sudden Rise and Future of Investment di The Westin, Jakarta, Kamis (19/5).

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – CEO Indodax, Oscar Darmawan, membagikan pandangannya mengenai pemanfaatan blokchain pada perekonomian. Menurutnya, teknologi tersebut menyimpan banyak manfaat, namun masih terdapat sejumlah hambatan.

Oscar berpendapat tantangan utama bagi pelaku indutri yang terjun di industri blockchain adalah soal edukasi dan literasi. Pasalnya, menurut Oscar, masyarakat saat ini bisa jadi lebih familiar dengan aset kripto ketimbang blockchain.

Istilah tersebut memang kerap dianggap sama lantaran berhubungan satu sama lain, kata Oscar. Padahal, baik blokchain maupun aset kripto merupakan dua hal yang berbeda.

“Karena jika masyarakat makin mengenal teknologi blockchain, saya yakin masyarakat akan semakin terbuka terhadap teknologi ini karena melihat sifat serta kelebihannya yang banyak memberikan benefit,” katanya dalam keterangan kepada media, Jumat (20/5).

Dikutip dari berbagai sumber, blockchain dapat dianggap sebagai sebuah basis data terdistribusi yang dibagikan di antara simpul-simpul jaringan komputer. Sebagai basis data, blockchain menyimpan informasi secara elektronik dalam format digital.

Teknologi blockchain memungkinkan informasi digital direkam dan distribusikan, namun tidak bisa diedit atau diubah. Dengan cara ini, blockchain adalah sebuah sistem berupa buku besar berisi catatan transaksi yang tak dapat dihancurkan. Itu sebab blokchain juga dinamai teknologi buku besar terdistribusi (distributed ledger technology).

Sset kripto secara sederhana adalah produk turunan dari blockhain. Kripto merupakan aset asli jejaring blockchain yang dapat diperdagangkan, dimanfaatkan sebagai medium pertukaran, dan dipergunakan untuk menyimpan nilai.

Tren investasi aset kripto, temasuk di Indonesia, belakangan memang booming, menurut Oscar. Namun, bisa jadi masih banyak yang belum mengenal dengan baik blokchain yang mendasari aset tersebut. Di sisi lain, menurut data dari LinkedIn pada 2020, blockchain menduduki puncak daftar hard skill yang paling dibutuhkan sekarang ini.

Daya guna blockchain

Enkripsi blockchain untuk mata uang kripto, internet of things, cloud computing. Shutterstock/Immersion Imagery

Blockchain pada prinsipnya diciptakan untuk melengkapi sistem perekonomian sehingga industri bisa lebih efisien dan transparan, kata Oscar.

Terlebih, di era industri 4.0 seperti saat ini, pemanfaatan blokchain memiliki penerapan yang luas dan penting. Menurutnya, era industri tersebut adalah soal integrasi antar teknologi serta sangat mengedepankan transparansi.

Blockchain merupakan sebuah buku besar yang di dalamnya terdapat catatan historis sebuah data dan bersifat transparan. Sifatnya bisa diterapkan di banyak sektor, aman karena memiliki proteksi yang tinggi dan sistem yang immutable atau tidak bisa diubah, efisien karena terdesentralisasi, transparan, serta traceable, dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” jelas Oscar.

Jumlah kasus penggunaan blockchain di industri pun tak sedikit. Ambil misal industri perbankan. Blockhain memungkinkan transaksi perbankan antar negara lebih efisien dan terjangkau.

Di sektor pemerintahan blockchain akan membantu digitalisasi pencatatan dokumen kependudukan atau bukti kepemilikan tanah dan properti. Digitalisasi dengan blockchain juga bisa dilakukan pada pencatatan rekam medis di pasien rumah sakit.

Itu belum termasuk penerapan blokchain untuk Internet of Things (IoT) seperti kendaraan otonom. Lalu, pemanfaaatan teknologi tersebut di sektor seni yang kemudian menciptakan aset yang tidak dapat dipertukarkan (non-fungible token/NFT).

Menurut Oscar, tak sedikit pengembang lokal yang membangun proyek berdasarkan blockchain. Hal ini menurutnya untuk menyambut kesiapan perekonomian terutama di sektor industri digital.

Menurut data dari Statista, yang mengutip survei terhadap ribuan perusahaan di dunia April tahun lalu, sebanyak 45 responden menyatakan bahwa perusahaannya sedang mengerjakan pertukaran informasi yang aman sebagai studi kasus penggunaan blockchain. Sisanya, penggunaan mata uang digital (44 persen responden), pelacakan dan manajemen aset (40 persen), dan identifikasi digital (40 persen). 

Related Articles