Comscore Tracker
TECH

Menilik Taktik BCA & Dexa Group dalam Mengelola Karyawan Gen Z

Generasi Z mencari rasa aman dan fleksibilitas bekerja.

Menilik Taktik BCA & Dexa Group dalam Mengelola Karyawan Gen Zilustrasi karyawan di perusahaan (freepik.com/Tirachardz)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Jumlah karyawan generasi Z mungkin belum mendominasi perusahaan secara umum, tapi seiring waktu mereka akan meraih dominasinya. Karena itu, penting kiranya bagi perusahaan untuk dapat mengelola mereka dan mengenali karakternya demi mendorong kemajuan bisnis.

Generasi Z lahir pada periode 1996–2009 dan sedari mula telah dilabeli digital native karena memiliki minat besar terhadap teknologi informasi, termasuk pelbagai aplikasi komputer.

"Gen Z juga memilih platform yang lebih bersifat privasi dan tak permanen. Mereka dikenal lebih mandiri serta menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar prioritas," kata Director of Graduate Program Universitas Prasetiya Mulya, Achmad Setyo Hadi, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (1/12).

Menurutnya, Gen Z cenderung kurang suka berkomunikasi secara verbal, serta berkepribadian egosentris dan individualis. Dalam konteks perusahaan, mereka antusias untuk memegang beberapa posisi pekerjaan sekaligus jika itu dapat melesatkan kariernya.

Sayangnya, Gen Z memendam masalah yang harus diantisipasi para pemimpin perusahaan. Sebagai generasi yang dilahirkan dan dibesarkan di tengah perkembangan pesat media sosial, mereka dibayangi perasaan terisolasi. Itu diperparah dengan situasi pandemi yang membuat mereka semakin merasa kesepian. Belum lagi kekhawatiran yang datang dari badai pemutusan hubungan kerja (PHK) beberapa tahun belakangan, serta dan ancaman resesi dalam tataran global.

Mencari rasa aman

Ilustrasi pekerja

Perusahaan farmasi Dexa Group mengaku telah merekrut generasi Z untuk menjadi karyawan dalam beberapa tahun belakangan.

Catatan perusahaan tersebut menunjukkan peta karyawan masih didominasi generasi Y dengan porsi 57 persen, sedangkan generasi Z dan X masing-masing 30 persen dan 13 persen. Secara khusus, anak perusahaan Dexa Group yang bergerak pada bidang online marketplace dan informasi kesehatan, GUE Ecosystem, generasi Y mendominasi dengan 55 persen, dan Z mencapai 45 persen.

“Pada posisi seperti content creator leader, product management, growth management, dan hal-hal yang berhubungan dengan digital initiative, biasanya sudah dipercaya untuk diisi Gen Z. Itu perbedaannya,” kata HR Manager PT Global Urban Esensial & HR Operations Manager, Dexa Medica (Member Dexa Group), Friska Finalia Sitohang.

Friska mengamati ada perbedaan karakteristik mendasar antara generasi X, Y, dan Z di perusahaan. Generasi X biasanya mencari keseimbangan antara kehidupan dan nilai dari organisasi, sementara generasi Y atau milenial mencari kebebasan dan fleksibilitas dalam pekerjaan.

Pada generasi Z, yang dicari adalah rasa aman, khususnya dalam urusan keuangan. Tidak sedikit karyawan dari generasi Z tidak menolak saat diberi tugas yang sangat banyak, asalkan ada imbal hasilnya. “Beberapa generasi Z di tempat kami willing untuk bekerja lebih, as long as security and stability benar-benar dijaga,” ujarnya.

Generasi Z dianggap pula sebagai career multitasker, yang berarti menjadi karyawan permanen pada satu perusahaan, tapi masih bekerja paruh waktu di tempat lain.  “Hal yang yang terpenting bagi Gen Z adalah kesehatan mental. Pekerjaan masih bisa dicari,” ujarnya.

Bekerja fleksibel

Ilustrasi Budaya Kerja Hybrid atau Remote. Dok/Microsoft Indonesia

Situasi pandemi Covid-19 yang membuat orang harus melakukan pembatasan jarak disinyalir sangat disukai oleh generasi Z, kata Friska. Alih-alih mengikuti rapat secara tatap muka, mereka justru lebih antusias untuk meeting melalui Zoom maupun Face Time.

Hal yang sama ditemukan PT Bank Central Asia Tbk. Menurut Executive Vice President Human Capital Management Division BCA, Rudi Lim, selama pandemi BCA menerapkan pola bekerja dari rumah (work from home/WfH).  

“WFH ini sangat diinginkan oleh Gen Z. Padahal, BCA sangat memperhatikan poin team work atau kolaborasi. Di sisi lain, karyawan yang bekerja secara online membuat proses monitoring tugas menjadi lebih sulit,” kata Rudi.

Solusinya, BCA menerapkan strategi work from hub. Dalam skema kerja tersebut, karyawan generasi Z tidak perlu datang ke kantor pagi hari. Mereka bisa bekerja dari hub yang telah ditentukan, dan lokasinya biasanya lebih dekat dari rumah.

Menurutnya, porsi karyawan gen Y dan Gen Z yang bekerja di BCA saat ini telah mencapai 60 persen. Namun, BCA sempat mengalami 10 tahun tidak melakukan rekrutmen, yakni pada 2000-2010.

“Persoalannya, Gen X sebentar lagi akan pensiun, dan posisi penggantinya tidak ada,” ujarnya. Karena itu, BCA mulai melakukan akselerasi demi mempersiapkan karyawan generasi Z untuk siap menggantikan posisi generasi X dan Y di perusahaan.

Generasi Z telah membawa nafas baru bagi BCA. Di satu sisi, mereka terlihat sangat kreatif dan penuh dengan ide-ide segar. Di sisi lain, mereka kerap dianggap mudah menyerah dan mencari alternatif lain. “Dari sisi tampilan luar, generasi Z terlihat percaya diri dan cuek. Di sisi lain, mereka mendambakan atasan yang bisa mengayomi dan berkomunikasi dengan mereka,” ujarnya.

Related Articles