Comscore Tracker
TECH

Perluas Ekspansi, Startup Social Commerce KitaBeli Raih Dana Rp299 M

Model bisnis KitaBeli direct-to-consumer.

Perluas Ekspansi, Startup Social Commerce KitaBeli Raih Dana Rp299 MKitaBeli Founders. Dok/KitaBeli.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Perusahaan rintisan KitaBeli berhasil meraih dana segar US$20 juta atau lebih dari Rp299 miliar, yang dipimpin oleh Glade Brook Capital Partners, serta partisipasi dari AC Ventures, GoVentures,dan InnoVen Capital. Startup social commerce ini akan memanfaatkan pendanaan seri B itu untuk memperluas ekspansi.

KitaBeli menyediakan produk fast moving consumer goods (FMCG) yang berfokus di kota lapis kedua dan ketiga. Startup ini menawarkan pengguna dan mitra untuk mendapatkan diskon serta beroleh pendapatan dengan memanfaatkan jejaring sosial. Aplikasinya memungkinkan konsumen menikmati potongan harga melalui pengalaman berbelanja sosial dan gamifikasi.

Menurut Prateek Chaturvedi, Co-Founder & CEO KitaBeli, berbeda dengan sejumlah aplikasi belanja lain, perusahaan menerapkan model bisnis perdagangan sosial secara langsung ke konsumen (direct-to-consumer), dengan menawarkan pembeli bahan pokok kebutuhan sehari-hari.

“Dengan sangat berfokus pada konsumen, kami telah mampu mencapai kesesuaian dan skala produk-pasar dengan sangat cepat di pasar yang secara historis belum dimanfaatkan,” kata Prateek, dalam keterangan resmi kepada media, Senin (18/7).

Menurutnya, dengan memanfaatkan jaringan sosial offline dari mitra, perusahaan sanggup menjangkau ribuan pengguna baru yang melakukan pembelian secara online untuk pertama kalinya. Hal itu membantu perusahaan dalam membangun loyalitas dengan pelanggan, serta memungkinkannya untuk memberikan margin jangka panjang yang lebih baik.

KitaBeli mengaku telah tumbuh lebih dari 10 kali lipat dalam enam bulan. 

Ekspansi

Tim KitaBeli. Dok/KitaBeli.

Selain berekspansi ke kota-kota alternatif, perseroan akan merilis kategori produk baru, seperti produk kecantikan, perawatan pribadi, produk ibu dan bayi, dan makanan beku.

Menurut Prateek, ekspansi perusahaan ini terjadi di waktu yang tepat, sebab kota-kota dimaksud mewakili pasar mencapai US$100 miliar atau lebih dari Rp1.497 triliun, serta dengan lebih dari 200 juta konsumen yang memiliki kontribusi mencapai 50 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Perusahaan rintisan itu menyebutkan sejumlah masalah yang secara umum dihadapi wilayah lapis kedua dan ketiga. Sebut misal, konsumen kerap mengalami kendala waktu pengiriman yang lama untuk pesanan belanja daring mereka. Namun, startup ini menawarkan solusi dengan membuka gedung di setiap kota tempatnya beroperasi

Lalu, rata-rata penduduk di luar Jakarta kerap beroleh harga lebih tinggi lantaran rantai posokan yang kompleks. Dalam tantangan ini, KitaBeli berikhtiar untuk mendapatkan produk langsung dari brand dan prinsipal.

Itu belum termasuk tantangan kepercayaan dengan e-commerce ketika konsumen tidak mengenal orang yang menjual produk tertentu. Perusahaan lantas berfokus pada jaringan luring konsumen, serta mendorong pembeli untuk mengundang teman dan keluarga mereka untuk menggunakan platform KitaBeli.

“Kami percaya, gelombang pertumbuhan e-commerce berikutnya di Indonesia akan didorong oleh permintaan konsumen di luar kota-kota besar seperti Jakarta,” kata Linda Guo, Partner di Glade Brook Capital Partners. Menurutnya, Kitabeli berhasil membangun hubungan mendalam dengan komunitas lokal, serta melayani konsumen kelas menengah yang berkembang.

Sementara, Adrian Li, Founder dan Managing Partner AC Ventures, menyatakan pendekatan produk dan keunggulan operasional KitaBeli telah menunjukkan keterlibatan pelanggan yang kuat, pertumbuhan top-line, dan ekspansi tingkat penerimaan yang menjanjikan. ”Kami sangat antusias dengan masa depan KitaBeli dan bersemangat untuk menjadi bagian dari perjalanan sejak awal,” ujarnya.

Menurut laporan Daily Social bertajuk Social Commerce Report, nilai pasar social commerce pada 2022 telah mencapai US$8,6 miliar atau lebih dari Rp128,7 triliun. Pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor ini diperkirakan mencapai 4,9 persen, dan pada 2028 berkisar US$86,7 miliar atau sekitar Rp1.298 triliun. Sejumlah startup di sektor ini, di antaranya KitaBeli, CrediBook, Dagangan, Mapan, Berkahi, dan Evermos.

Related Articles