Comscore Tracker
TECH

Rekor Tertinggi, Data Pribadi 1 Miliar Penduduk Cina Diduga Bocor

Pemerintah Cina belum mengkonfirmasi kasus dugaan tersebut.

Rekor Tertinggi, Data Pribadi 1 Miliar Penduduk Cina Diduga BocorHacker. (ShutterStock/takasu)

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Data pribadi 1 miliar penduduk Cina yang dimiliki kepolisian diduga bocor di situs gelap. Jika terbukti, kasus tersebut kemungkinan akan menjadi penjebolan digital terbesar dalam sejarah.

Peretas anonim yang menyebut diri sebagai “ChinaDan” mengeklaim telah mendapatkan data pribadi miliaran warga Cina tersebut, menurut warta Reuters. Dia menawarkan lebih dari 23 terabyte (TB) data seharga US$200 ribu atau lebih dari Rp3 miliar di forum peretas Breach Forums.

“Pada 2022, database Shanghai National Police (SHGA) bocor. Database ini berisi banyak TB data dan informasi tentang miliaran warga Cina," demikian unggahan hacker tersebut, seperti dikutip dari The Guardian.

Postingan sama menyebutkan basis data kepolisian itu berisi informasi tentang 1 miliar penduduk Tiongkok, dan beberapa miliar catatan kasus, termasuk nama, alamat, tempat lahir, nomor ID nasional, nomor ponsel, dan semua detail kasus.

Reuters maupun The Guardian tidak dapat memverifikasi unggahan tersebut. Identitas peretas tidak jelas. The Guardian juga tidak dapat menghubungi sejumlah nomor yang terdapat dalam sampel database tersebut.

Tren kebocoran data

Warga mengunjungi Tembok China pada liburan Hari Nasional menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Beijing, China, Jumat (1/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas Peter/foc/cfo

Unggahan hacker tersebut sempat menggemparkan media sosial Cina, Weibo dan WeChat. Begitu banyak pengggunanya mengkhawatirkan kebocoran data tersebut. Namun, tagar “kebocoroan data” di Weibo telah diblokir.

Sementara, seorang ilmuwan senior di University of Wisconsin-Madison, Yi Fu-Xian, menyatakan telah mengunduh sampel data yang tersedia di internet dan menemukan informasi terkait dengan daerah asalnya di provinsi Hunan. 

“Data tersebut berisi informasi tentang hampir semua kabupaten di Cina, dan saya bahkan telah menemukan data terkait dengan daerah terpencil di Tibet yang hanya didiami beberapa ribu penduduk,” katanya.

Kasus klaim peretasan ini muncul ketika Cina telah berjanji untuk meningkatkan perlindungan privasi data pengguna. Pemerintah juga telah menginstruksikan para raksasa teknologi untuk memastikan penyimpanan yang lebih aman. Kebijakan itu digulirkan setelah publik mengeluhkan tentang kesalahan pengelolaan serta penyalahgunaan.

Dalam beberapa tahun terakhir Cina mengalami sejumlah insiden kebocoran data. Pada 2016, informasi sensitif tentang individu Cina yang kuat, termasuk pendiri raksasa e-c-commerce Alibaba, Jack Ma, telah diunggah di media sosial Twitter.

Insiden ini membuat khawatir pihak berwenang Cina. Tahun lalu, pemerintah Cina mengesahkan undang-undang yang mengatur ihwal penanganan informasi dan data pribadi yang dihasilkan di negerinya.

Kendra Schaefer, kepala penelitian kebijakan teknologi di konsultan yang berbasis di Beijing, Trivium China, mengatakan dalam sebuah unggahan di Twitter bahwa kebenaran dari klaim peretas itu bakal sulit diuji. 

Related Articles