Comscore Tracker
TECH

Riset Lazada: Pekerja Terampil Faktor Penting Ekonomi Digital RI

Pengembangan ekonomi digital perlu sinergi berbagai pihak.

Riset Lazada: Pekerja Terampil Faktor Penting Ekonomi Digital RISejumlah peserta mengikuti pelatihan pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) era digital di Banda Aceh, Aceh, Minggu (31/10/2021). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas./hp.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Riset perusahaan e-commerce Lazada bersama konsultan manajamen YLP Solidiance menemukan pekerja terampil bakal menjadi faktor penting dalam ikhtiar memajukan perekonomian digital Indonesia.

Dalam laporan bertajuk “Pengembangan Talenta Untuk Ekonomi Indonesia”, ekonomi digital Indonesia diprediksi bakal menciptakan 3,7 juta lapangan pekerjaan baru.

Terlebih, Indonesia akan mengalami bonus demografi mulai 2030 dengan penduduk usia produktif mencapai 64 persen dari total populasi. Kelompok usia produktif ini digadang-gadang bakal menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi digital RI.

Hal tersebut seiring dengan laporan dari Google, Bain, dan Temasek pada 2021 yang menaksir bahwa ekonomi online Indonesia akan terus tumbuh. Bahkan, pada tiga tahun mendatang, nilai ekonomi digital dalam negeri berpotensi mencapai US$146 miliar atau lebih dari Rp2.087 triliun.

“Studi Lazada ini menjadi pengingat dan pendorong bagi seluruh pemangku kepentingan, baik sektor publik maupun swasta, untuk berkolaborasi dan bergerak bersama demi pengembangan ekonomi digital Indonesia,” kata Executive Director Lazada Indonesia, Ferry Kusnowo, dalam keterangan kepada media, Jumat (4/3).

Tiga keterampilan utama

Studi Lazada pun mengindentifikasi tiga kategori keterampilan utama yang harus dikuasai oleh talenta Indonesia untuk bisa berkembang. Berikut sejumlah kategori tersebut.

  • Kecakapan sosial: kecakapan untuk memiliki pola pikir beradaptasi, berpikir kritis, dan analitis
  • Kecakapan digital: kecakapan digital kompleks senantiasa dibutuhkan oleh industri demi mempercepat efisiensi. Di samping itu, pengambilan keputusan berbasis data menjadi kian relevan.
  • Keterampilan penggerak bisnis (business enabler skills): Dalam hal ini, talenta juga bisa mengembangkan pola pikir bisnis yang kuat dan fleksibel. Hal ini menjadi keterampilan mendasar yang wajib bagi setiap talenta seiring dunia usaha yang berkembang.

Saran kebijakan kepada pemerintah

Studi tersebut menemukan empat pendekatan utama bagi sinergi para pemangku kepentingan, yaitu: penyelerasan ekosistem pendidikan dan dunia kerja, program pengembangan talenta siap kerja, pengembangan bisnis dan karier yang berkelanjutan, dan pelatihan yang inklusif dan mudah diakses.

Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Mohammad Rudy Salahuddin, merespons temuan dari studi tersebut. Menurutnya, potensi ekonomi digital Indonesia besar, namun memang masih ada beberapa tantangan, khususnya dalam membangun talenta digital.

“Pemerintah mendorong swasta untuk aktif dalam kegiatan pendidikan dan vokasi yang ditujukan kepada talenta digital. Kami tidak dapat bekerja sendiri, diperlukan kolaborasi banyak pihak, utamanya pelaku usaha sebagai end user dari tenaga kerja tersebut,” ujarnya dalam keterangan sama.

Riset AlphaBeta dan Google soal talenta digital

Riset konsultan ekonomi dan bisnis AlphaBeta bersama Google turut mengungkapkan soal peluang dan tantangan bagi pengembangan talenta digital demi kinerja ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Mereka berpendapat keterampilan digital tak hanya penting bagi pekerja sektor teknologi, bahkan sama-sama mendesak untuk pekerja di sektor konvensional.

Berdasarkan laporan bertajuk “Keterampilan untuk Masa Depan: Memperkuat Ekonomi Indonesia dengan Meningkatkan Keterampilan Digital” Maret 2021, diprediksi bahwa pekerja dengan skill digital bakal memberikan kontribusi senilai Rp4.434 triliun ke pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) pada 2030.

Angka tersebut setara dengan 16 persen dari total perkiraan PDB pada tahun tersebut. Sebagai perbandingan, saat ini jumlah kontribusi PDB pekerja dengan keterampilan digital hanya 6 persen.

Bahkan, sektor non teknologi—seperti layanan profesional, manufaktur, dan konstruksi—ditaksir akan mengalami peningkatan kontribusi PDB tertinggi pada 2019–2030.

Upaya meningkatkan keterampilan digital pekerja Indonesia, terutama di sektor-sektor yang terdampak pandemi COVID-19, akan menjadi faktor krusial bagi pemulihan. Sebab, bisnis yang dapat beradaptasi ke dunia digital kemungkinan besar dapat pulih lebih cepat.

Related Articles