Comscore Tracker
TECH

Zuckerberg Rebranding Nilai Bisnis Meta, Karyawan Dijuluki Metamates

Meta tengah sibuk melakukan rebranding eksternal.

Zuckerberg Rebranding Nilai Bisnis Meta, Karyawan Dijuluki MetamatesShuterstock/Michael Vi

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Meta Platform Inc., induk dari media sosial seperti Facebook dan Instagram, melakukan rebranding dalam rangka perubahan arah bisnis perseroan.

“Kami memiliki komunitas global dan dampak yang luas, dan kami sekarang adalah perusahaan metaverse yang membangun masa depan koneksi sosial,” begitu pernyataan CEO Meta, Marck Zuckerberg, seperti dikutip dari Fortune.com, Kamis (17/2).

Zuckerberg memperkenalkan enam nilai baru bisnis Meta, dua di antaranya “bergerak” cepat” dan “hidup di masa depan”.

Julukan karyawan: metamates

Salah satu nilai yang diajukannya berkenaan dengan para karyawannya, yang kini mendapat julukan metamates.

Moto tersebut, yakni "Meta, Metamates, Me", berarti mengutamakan kepentingan perusahaan di atas segalanya. 

“Ini tentang rasa tanggung jawab yang kita miliki untuk kesuksesan kolektif kita dan satu sama lain sebagai rekan satu tim. Ini tentang menjaga perusahaan kami dan satu sama lain," ujarnya.

Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengatakan titel bagi karyawan Meta tersebut terinsipirasi dari ekspresi Angkatan Lautan Amerika Serikat (AS) “ship, shipmates, self”.

Meta tentu bukan perseroan pertama AS yang menggunakan panggilan akrab untuk karyawan. Karyawan Google disebut Googler, lalu pekerja Amazon dikenal sebagai Amazonians, dan karyawan Yahoo adalah Yahoos, demikian menurut The New York Times.

Terlepas dari itu, gagasan mengenai posisi pekerja yang menempatkan perusahaan di atas segalanya terdengar sedikit menyeramkan. Apalagi mengingat perubahan citra Facebook yang tengah berjuang melawan whistleblower.

Tahun lalu, mantan karyawan Facebook, Frances Haugen, mengumbar kondisi internal perusahaan yang disebutnya “memprioritaskan keuntungan sendiri di atas keselamatan publik, dan mempertaruhkan nyawa orang.”

Haugen membocorkan dokumen perusahaan, yang populer sebagai Facebook Papers, berisi bagaimana perusahaan tidak dapat mengatasi ujaran kebencian di platformnya. Facebook dianggap mengabaikan laporan bahwa platform tersebut telah ikut merusak kesehatan mental gadis remaja.

Rebranding di tengah gejolak

Rebranding Meta dilakukan menyusul sejumlah gejolak. Salah satu kontroversi yang melibatkan raksasa teknologi tersebut baru-baru ini adalah penyelesaian gugatan class action atas penggunaan cookies pada 2010-2011. Cookies itu melacak pengguna secara online meskipun mereka telah keluar dari Facebook.

Meta lalu sepakat untuk menghapus semua data yang “salah dikumpulkan” selama periode tersebut. Perusahaan juga akan membayar $90 juta atau sekitar Rp1,29 triliun.

Pada awal Februari 2022, harga saham Meta anjlok dan membuatnya harus kehilangan kapitalisasi pasar sebesar US$230 miliar atau lebih dari Rp3.200 triliun. Itu adalah penurunan nilai terbesar suatu perusahaan sepanjang sejarah AS.

Rachel Jonse, analis dari Firma riset Global Data, mengatakan ketidakpastian atas fokus baru Meta pada metaverse membuat beberapa investor gelisah.

"Meta mengorbankan model bisnis intinya karena ketertarikannya dengan metaverse," kata Rachel, seperti dikutip dari euronews. "Bertaruh besar di metaverse bukanlah hal yang buruk - teknologinya akan menjadi besar dan memberikan banyak peluang. Tetapi, akan membutuhkan setidaknya satu dekade lagi untuk benar-benar berjalan".

Related Articles