Synology: 9 dari 10 Perusahaan RI Belum Siap Pulih dari Ransomware AI

Survei Synology mencatat hanya 8,4 persen perusahaan di Indonesia yang merasa sangat siap bertahan dan pulih dari ancaman siber berbasis AI.
Sebanyak 24 persen perusahaan sangat yakin dapat memulihkan sistem dengan cepat setelah serangan ransomware.
Backup andal dan kelangsungan bisnis menjadi prioritas utama perusahaan Indonesia dengan persentase 53,9 persen.
Jakarta, FORTUNE - Mayoritas perusahaan belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan recovery ketika terserang ransomware. Synology dalam surveinya yang bertajuk Synology, 2026 Southeast Asia Survey mengatakan bahwa hanya 8,4 persen perusahaan di Indonesia yang merasa sangat siap untuk bertahan dan juga bisa pulih dari ancaman siber yang berbasis AI.
Dalam kata lain, sebanyak 9 dari 10 perusahaan menyatakan belum sepenuhnya siap untuk bisa pulih dari ancaman siber yang berbasis AI.
"Bahkan ada 43 persen yang mengaku kalau tidak terlalu siap atau sama sekali tidak siap, bahkan ancamannya terus berkembang," ujar Clara Hsu di Synology Press Event 2026 di Jakarta, Selasa (13/10).
Menurut Clara, perusahaan harus siaga dalam memperkuat dua hal sekaligus yakni pencegahan dan kesiapan terhadap recovery setelah mendapat serangan. Dalam surveynya, Synology juga menemukan kesenjangan dari sisi recovery.
Menurut survei, hanya sekitar 24 persen perusahaan di Indonesia yang sangat yakin dapat melakukan pemulihan dengan cepat apabila terserang ransomware. "Jadi sisanya ada 76 persen perusahaan yang masih belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan recovernynya," kata Clara.
Clara menggarisbawahi pentingnya melakukan backup data yang terlindungi bagi sebuah perusahaan. Menurutnya, karena backup adalah garis pertahanan terakhir, sehingga backup itu tidak boleh ditempatkan bersamaan dengan sistem produksi.
Oleh sebab itu, Clara menilai bahwa backup harus dikelola secara terpusat dalam satu lingkungan dan terisolasi dari risiko produksi.
"Kalau sistem produksi dan infra itu dipakai bersamaan dalam satu sistem yang sama, bayangkan kalau sistem itu terenkripsi atau diserang ransomware. Semuanya jebol," ujarnya.
Synology juga menemukan bahwa saat ini, backup yang andal dan kelangsungan bisnis dipilih sebagai prioritas perusahaan Indonesia di posisi pertama dengan persentase 53,9 persen. Pada posisi kedua adalah memperkuat keamanan data dengan persentase 43 persen. Sementara itu, cost control ada di posisi ketiga dengan persentase 32,8 persen.
"Artinya yang paling dikhawatirkan oleh perusahaan di Indonesia itu bukan cuman data yang bocor. Tapi operasional bisnis itu enggak boleh berhenti. Apapun yang terjadi, operasional bisnis tetap harus jalan dan data harus bisa di-recovery pada saat dibutuhkan," kata Clara.



















