Comscore Tracker
TECH

Benarkah Ride Sharing Berdampak Negatif untuk Lingkungan?

Ride sharing disebut terkait dengan kemacetan hingga polusi.

Benarkah Ride Sharing Berdampak Negatif untuk Lingkungan?Ilustrasi ride sharing. (Shutterstock/Tero Vesalainen)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE – Perusahaan berbagi tumpangan (ride-share) menggembar-gemborkan layanannya sebagai solusi mengurangi jumlah kendaraan di jalan, menekan tingkat emisi gas rumah kaca dan polusi udara, sekaligus mengurai kemacetan. Namun, apakah klaim itu benar adanya?

Studi dari Ward, Michalek, dan Samaras (2021) dari Universitas Carnegie Mellon mematahkan argumen tersebut. Bahkan, penelitian itu menyebut, raksasa berbagi tumpangan—seperti Uber dan Lyft—sebetulnya membebani Anda dengan biaya eksternal akibat kemacetan, kecelakaan mobil, polusi karbon, serta kebisingan.

Penelitian yang terbit di Enviromental Science & Technology itu memproses kombinasi data dari enam pasar dan permodelan ride-share guna mengukur dampak layanan itu dibandingkan dengan kendaraan pribadi. Beberapa aspek yang ditinjau oleh peneliti, yakni polusi udara, polusi gas rumah kaca, kemacetan, kebisingan, dan kecelakaan.

1. Emisi Gas Rumah kaca dan Polusi

Ward dkk. mencoba menganalisis perbedaan antara cold start (menyalakan mesin kendaraan pada suhu relatif rendah) dan pengoperasian ride-share dan kendaraan pribadi. Mobil-mobil berbagi tumpangan cenderung lebih sering bergerak bahkan saat tak berpenumpang (biasa disebut deadheading). Sebagai perbandingan, orang yang mengemudikan kendaraannya sendiri sering berhenti untuk berbagai urusan, yang ujungnya akan menghasilkan lebih banyak cold start. Kondisi tersebut dihubungkan dengan polusi udara lebih tinggi.

Problemnya, laku deadheading itu tak membantu. Sebab, pengemudi ride-share masih tetap menghasilkan emisi gas rumah kaca sekitar 20 persen lebih tinggi dari pengemudi yang tidak berbagi tumpangan. Peneliti menyebut, emisi itu menghasilkan biaya ekstra senilai 8 sen per perjalanan.

2. Kemacetan, Polusi Suara, dan Kecelakaan

Berdasar studi bertajuk Air Pollution, Greenhouse Gas, and Traffic Externality Benefits and Costs of Shifting Private Vehicle Travel to Ridesourcing Services itu, tiap kendaraan ride-share menghabiskan sekitar US$1 per trip untuk kerusakan terkait lalu lintas, lebih tinggi ketimbang trip pribadi (60 sen). Masyarakat juga dikenakan biaya sekitar 32-37 sen per perjalanan saat berbagi tumpangan, dibanding dengan trip menggunakan kendaraan pribadi.

Studi lain dari MIT yang meninjau 44 kota tempat Uber dan Lyft bertumbuh mengungkapkan, lalu lintas di kota-kota itu meningkat hampir 1 persen, bersamaan dengan naiknya kemacetan sekitar 4,5 persen secara keseluruhan.

Kerugiannya bukan hanya dari segi waktu, tetapi juga materi. Mereka merogoh puluhan miliar dolar untuk bahan bakar yang terbuang, bahkan produktivitasnya berkurang. Belum lagi dengan dampak ride-share terhadap peningkatan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas, menurut studi dari Barrios dkk. (2018).

3. Masalah Kerusakan Iklim

Ketimbang berjalan kaki, bersepeda, dan memakai transportasi umum, layanan berbagi tumpangan dikenakan biaya sosial lebih tinggi (US$1,20). Lebih-lebih, penelitian terbaru dengan tegas menyatakan, berbagi tumpangan tidak akan membantu upaya mitigasi atas kerusakan iklim.

Untuk mengatasi masalah itu, bukan layanan berbagi tumpangan yang diperlukan, melainkan prioritas transportasi tanpa kandungan karbon (atau setidaknya yang rendah karbon). Salah satu caranya, yakni lebih mengandalkan transportasi publik.

Related Articles