Comscore Tracker
TECH

Facebook Diam-Diam Istimewakan 5,8 Juta Pengguna, Benarkah?

Ada tim khusus yang meninjau konten jutaan pengguna VIP itu.

Facebook Diam-Diam Istimewakan 5,8 Juta Pengguna, Benarkah?Ilustrasi Facebook. (ShutterStock/AlexandraPopova)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Facebook kabarnya diam-diam memberi perlakuan khusus bagi sekelompok orang dengan tidak menerapkan aturan platform yang seharusnya dipatuhi oleh 2,89 miliar penggunanya.

Pada 2020 ada sekitar 5,8 juta pengguna dari kalangan selebritas, politisi, dan tokoh publik lain yang tergabung dalam program XCheck Facebook. Program tersebut sudah eksis sejak 2019.

“Untuk beberapa anggota komunitas, kami tidak akan menegakkan kebijakan dan standar kami. Tak seperti pengguna lain, orang-orang itu dapat melanggar standar (aturan) kami tanpa konsekuensi apa pun,” begitulah bunyi laporan internal Facebook yang jadi bagian investigasi The Wall Street Journal, dikutip Arstechnica, Selasa (14/9).

Mayoritas karyawan Facebook dapat menambahkan pengguna ke dalam sistem XCheck. Sayangnya, hanya sedikit karyawan yang ditugaskan untuk meninjau unggahan para anggota program itu.

Sudah begitu, para pengguna umumnya tak diberi notifikasi bahwa mereka ditandai sebagai salah satu anggota XCheck.

1. Tujuan Awal Program XCheck

Facebook mengakui, program XCheck hadir pada 2019 untuk para politisi. Namun masalah terkait kesalahan pengelolaan program itu adalah temuan baru. Mengacu pada kutipan dari laporan internal, perusahaan tampaknya sadar program itu seperti pedang bermata dua.

Sayangnya, Facebook sudah telanjur kewalahan menghadapi problem itu. Bahkan, sebelum merevisi XCheck, manajer produk menyatakan secara tertulis, “kita harus menyeimbangkannya (XCheck) dengan risiko bisnis.”

Pada awalnya, XCheck dirancang untuk menekan risiko masalah kehumasan yang timbul akibat komplain pengguna ternama—kalau unggahan mereka dihapus paksa oleh tim moderasi kontan Facebook. Sebab, pengguna dengan profil seperti itu memiliki pengaruh tinggi terhadap audiensnya.

Oleh karena itu, para pengguna “istimewa” itu dapat mengirim konten apa pun tanpa harus khawatir materinya akan dihapus Facebook. Bila algoritma mengindikasikan adanya pelanggaran di unggahan tersebut, maka itu akan dikirim ke moderator berbeda. WSJ menyebut mereka sebagai “karyawan pengulas yang lebih terlatih”.

Sayangnya, seiring pertambahan anggota, tim moderasi XCheck justru kerepotan. Laporan internal yang bocor itu menyebut, “saat ini kami mengulas kurang dari 10 persen konten XCheck.”

2. Perlakuan Khusus Facebook kepada Pengguna VIP

Bahkan, kalau pun konten para anggota XCheck dihapus, perlakuan istimewa Facebook kepada mereka tetap terlihat. Buktinya tergambar dalam kasus pesepak bola asal Brasil, Neymar.

Mengutip dokumen yang diulas WSJ, pada 2019, Neywar pernah posting video yang mengandung gambar telanjang wanita ke Facebook dan Instagram. Pada akhirnya, wanita tersebut menuduh Neymar melakukan pencabulan karena mengunggah gambarnya tanpa izin.

Jika hal itu dilakukan oleh pengguna biasa, maka unggahannya sudah pasti dihapus paksa dan akunnya akan dimatikan. Namun, Neymar tak ditindak demikian.

Video itu bertahan lebih dari sehari sampai dilihat oleh 56 juta orang, diunggah ulang 6.000 kali, sampai akhirnya si wanita dilecehkan dan dirundung di jagat maya.

“Setelah mengeskalasi kasus ini ke pimpinan, kami memutuskan membiarkan akun Neymar tetap aktif, menyimpang dari kebijakan yang biasa kami lakukan,” begitu kata salah satu pengulas konten.

3. Tanggapan Facebook Menyoal Program XCheck

Menanggapi kabar itu, Juru Bicara Facebook, Andy Stone dalam utas Twitter menulis, “kami memahami, penegakan aturan kami tidak sempurna dan ada pengorbanan di antara kecepatan dan keakuratan.”

Kemudian, dia menjelaskan, kini Facebook memiliki tim dan sumber daya baru, serta perbaikan proses sebagai bagian alur kerja.

Sedikit informasi, beberapa dokumen yang WSJ terbitkan berasal dari pelapor yang mencari perlindungan. Dia juga mengirimkan file-file itu ke Security and Exchange Commission dan Kongres.

Related Articles